Professor Yang Izin Turun Panggung demi Shalat Tepat Waktu saat Berikan Kuliah Umum di Oxford

Sebagai Muslim, pastinya kita mengetahui bahwa shalat yang diwajibkan kepada kita telah ditentukan waktunya oleh Allah Ta’ala. Kita juga paham, jika dikerjakan di luar waktu, maka shalat kita akan hangus, tidak berpahala dan batal. Apalagi jika tak ada alasan yang syar’i untuk menjelaskan sebab keterlambatan itu.

- Advertisement -

Kita, juga memahami bahwa salah satu amalan terbaik adalah shalat tepat waktu. Berjamaah di masjid bagi laki-laki di awal waktu, atau di rumah bagi wanita tepat sesaat setelah adzan kelar dikumandangkan.

Sayangnya, tidak semua kita mengamalkan dua ajaran mulia itu dengan baik. Bahkan, banyak di antara kita yang melakukan shalat Zhuhur menjelang masuknya waktu Ashar, melakukan Ashar saat Maghrib hampir masuk waktunya, dan sebagainya. Semuanya dilakukan ala kadarnya dengan kualitas yang menyedihkan. Padahal, shalat adalah komunikasi paling efektif antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Di dalam bukunya Idaratush Shalat, Professor Ahmad Bassam Saie yang merupakan dosen sastra di Universitas Tishreen Suriah dan saat ini menjadi dosen di Oxford, mengisahkan salah satu pengalamannya saat memberikan kuliah umum di Oxford dan bagaimana kegigihan beliau dalam mendirikan shalat di awal waktu.

Hari itu, beliau datang tepat waktu. Benar saja, ruangan aula telah penuh dengan manusia, baik dari kalangan mahasiwa maupun dosen dan professor-profesor lainnya. Tepat pada waktu yang dijadwalkan, beliau membuka kuliah. Menyapa dengan salam dan menyampaikan pembukaan.

Hanya berbicara beberapa menit, beliau meminta izin ketika semua hadirin sudah mulai serius dan penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh professor tersebut.

“Aku harus keluar sebentar. Ada pertemuan yang lebih penting. Bahkan, jauh lebih penting dari kalian semua.” Seperti itulah kalimat yang beliau sampaikan. Kemudian dalam jenak, beliau meninggalkan ruangan diiringi tatapan sinis dan penuh tanya dari seluruh hadirin di aula tersebut.

- Advertisement -

Tunai lakukan keperluannya, beliau kembali menuju ruangan. “Aku telah kembali. Dan, aku meminta maaf karena telah membuat kalian marah. Hal itu terlihat jelas dari ekspresi wajah kalian semua.”

Beliau pun melanjutkan uraiannya, terkait apa yang baru saja dilakukannya. “Kita akan marah jika ada orang yang tidak menghargai kita. Mereka dengan mudah mengkhianati janji pertemuan yang telah kita sepakati. Aku barus aja melakukannya. Tetapi, aku telah meminta maaf pada kalian. Dan, hal itu baru sekali kulakukan.”

Setelah menerangkan bahwa beliau meminta izin untuk mengerjakan shalat, beliau bertanya, “Bagaimana dengan Allah Ta’ala yang kita khianati setiap kali waktu shalat tiba? Kita acuh dan tak peduli saat adzan berkumandang. Kita mengkhianati-Nya dengan tidak mendirikan shalat tepat waktu.”

Di hadapan mahasiswa-mahasiswa Muslim itu, beliau mengakhiri, “Aku hanya melakukan hal itu sekali kepada kalian. Dan, aku sudah meminta maaf. Bagaimana dengan yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala sebanyak lima kali dalam sehari di sepanjang usia kita?”

Ya Allah, kuatkanlah kami untuk senantiasa mendirikan shalat berjamaah tepat waktu di masjid. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Sumber: Saief Alemdar

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -