Petuah Agung Rasulullah kepada Para Tukang Adzan

Sahabat Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kepada kekasih sekaligus junjungannya, mantan budak Persia yang pesona imannya menembus zaman ini menyampaikan pertanyaan, “Ya Rasulullah, orang-orang senantiasa berbisnis dan bisa berinfaq dengan keuntungan yang mereka dapatkan.”

- Advertisement -

Pungkas muadzin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu, “Sementara aku hanyalah tukang adzan (muadzin).”

“Ya Bilal,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullah, “tidakkah engkau bahagia bahwa kelak di Hari Kiamat, engkau adalah orang yang paling panjang lehernya.”

Menjelaskan makna hadits ini, Inayatullah Hasyim menjelaskan dalam kolom Hikmah Harian Umum Republika Jumat (22/1) menuturkan, “Panjang leher adalah kiasan untuk menunjukkan amal Bilal Radhiyallahu ‘anhu dalam menyeru orang pada kebaikan, menjadikannya bahagia di akhirat kelak.”

“Kadang,” lanjutnya, “dari satu pekerjaan, kita tidak mendapatkan imbalan duniawi yang memadai, tetapi yakinlah bahwa skenario Allah Ta’ala selalu yang terbaik.”

Mendapatkan pekerjaan yang bergengsi bukanlah larangan. Bahkan sangat dianjurkan jika pekerjaan tersebut bisa menjadi sarana kebaikan untuk sebanyak-banyaknya kaum Muslimin dan umat manusia. Dalam hal ini, Islam memiliki sikap yang sangat jelas. Agar umatnya tidak hanya melihat pada gengsi, tapi manfaatnya.

Sebuah pekerjaan yang terlihat remeh di dalam pandangan umum, bisa jadi bernilai sangat baik jika dilihat dari penilaian Islam. Pun sebaliknya. Ada begitu pekerjaan-perkerjaan yang dipandang hebat, bergengsi, dan diperebutkan oleh sebagian besar manusia, tapi nilainya sangat rendah dan hina di dalam penilaian Islam.

- Advertisement -

Bukankah mereka yang mengenakan setelan jas, berdasi, sepatunya mengkilat, dengan mobil mewah yang dikendarai setiap hari terlihat sangat bergengsi dalam penialain manusia? Akan tetapi, jika hartanya didapat dari menipu, berbohong, jualan kasus, dan aneka modus korupsi lainnya, bukankah yang mewah itu ternilai sangat menjijikan di dalam penilaian Islam yang amat mulia?

Maka berpikirlah baik-baik. Jangan mudah menggunakan standar manusia dalam memberikan penilaian. Jangan berpikir sebagaimana umumnya orang hingga mengabaikan penilaian Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kepada para tukang adzan, di mana pun berada, berbahagia dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala. Berbahagialah sebab kabar gembira ini berasal dari Allah Ta’ala. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjaminnya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa....

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu

“Yah, kenapa sih mobil kita kecil? Sudah sesak nih,” kata seorang anak kepada ayahnya saat mereka berlima bepergian menuju sebuah tempat wisata.

Nama Istri-Istri dan Anak-Anak Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memiliki enam orang anak. Seluruhnya menjadi tokoh-tokoh di zamannya, dalam berbagai bidang yang berbeda.

4 Keutamaan Wudhu yang Mencengangkan

Karena sering dilakukan, kadang wudhu dianggap biasa saja dan disepelekan. Padahal, keutamaan wudhu itu luar biasa. Wudhu adalah cara...