Bolehkah Niat Puasa Ramadhan Pagi Hari Setelah Terbit Fajar?

Rukun puasa menurut jumhur ulama hanya dua. Niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Lalu, bolehkah niat puasa Ramadhan di pagi hari setelah terbit fajar?

- Advertisement -

Niat merupakan syarat diterimanya amal, termasuk puasa Ramadhan. Ia juga rukun yang jika tidak dilakukan maka puasa menjadi tidak sah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Prof Dr Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, niat adalah keinginan secara umum (al iradah al kulliyah). Sehingga niat dari malam hari tetap dianggap sah dan niat tidak disyaratkan harus berbarengan dengan terbitnya fajar.

Baca juga: Kelemahan Tukang Sihir

Menurut jumhur ulama, niat puasa Ramadhan setelah terbitnya fajar tidak sah. Bahkan menurut madzhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan berbarengan dengan terbitnya fajar tidak sah.

- Advertisement -

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa’i; shahih)

Karena sulitnya menepatkan niat puasa menjelang terbitnya fajar, maka niat puasa Ramadhan boleh dilakukan pada malam hari, boleh pula pada waktu sahur. Yang tidak boleh jika niat dilakukan setelah terbitnya fajar. Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya boleh dilakukan saat pagi.

Niat ini tidak harus dilafadzkan. Bahkan menurut mazhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, sunnah dilafadzkan untuk membantu hati menghadirkan niat. Bagi yang mengikuti sunnah melafadzkan niat, lafadznya ada di artikel Niat Puasa Ramadhan.

- Advertisement -

Menurut madzhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan tidak bisa diwakili dengan makan sesuatu pada saat sahur. Kecuali jika saat makan sahur terbetik dalam pikirannya bahwa besok akan berpuasa. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, niat puasa Ramadhan bisa diwakili dengan makan sahur. Kecuali jika saat makan itu berniat bukan untuk berpuasa. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Kisahikmah.com]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -