Mereka yang Tetap Berjihad di Usia Senja

Islam adalah agama yang amat menjunjung tinggi amal saleh pemeluknya. Dalam sejarah Islam, kita menjumpai sosok-sosok inspiratif yang dengan amat baik mengamalkan ajaran ini. Mereka senantiasa beramal di sepanjang usianya; mulai dari anak di bawah lima tahun, anak-anak di atasnya, para remaja, yang dewasa, hingga mereka-mereka yang telah memasuki usia senja.

- Advertisement -

Banyaknya usia yang menjadi salah satu tanda tak lama lagi jatah hidupnya, rupanya tak menyurutkan langkah-langkah mereka untuk terus melakukan amal saleh sebagai manifestasi keimanan mereka kepada Allah Ta’ala. Di antara mereka ada yang tetap pergi berjihad di usianya yang kesembilan puluh, tetap menjadi prajurit perang saat usianya kepala tujuh, dan lain sebagainya.

Penutup para Nabi dan Imam para Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja sebagaimana disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq yang dikutip dalam al-Bidayah wan-Nihayah karangan Imam Ibnu Katsir, beliau berperang selama dua puluh tujuh kali di sepanjang usianya.

Penting menjadi catatan, beliau mulai berjihad di usianya yang kelima puluh empat. Bahkan Perang Tabuk yang menjadi akhir peperangan yang diikuti, dipimpin langsung saat usia Nabi ada di angka enam puluh tahun. Bukankah di usia itu, tulang mulai melemah, tubuh tak segagah para pemuda, rambut mulai memutih dan jenis kelemahan-kelemahan fisik lainnya?

Banyak lagi teladan serupa di dalam Islam yang amat mulia ini. Misalnya, Ammar bin Yasir yang masih mengikuti jihad di usia sembilan puluh tahun. Dr. Najih Ibrahim mengomentari ini dengan mengatakan, “Beliau berangkat perang saat tulang-belulangnya sudah rapuh, tubuh telah lelah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.”

Sedangkan Abu Sufyan yang masuk Islam saat peristiwa Fathu Makkah, masih membakar semangat pasukan mujahid untuk berperang di usia tujuh puluh tahun. Termasuk di dalamnya Yaman dan Tsabit bin Waqasy yang tetap turut dalam Perang Uhud meski usianya lanjut. Kepada keduanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menempatkannya di barisan belakang bersama kaum wanita.

Tentu, ini sejenis pelecut semangat bagi generasi setelahnya. Agar bergegas melakukan amal, berapa pun usia kita saat ini. Sebab memang, mereka yang melakukan amal di usia senja itu telah bergegas membiasakan amal sejak masa mudanya. Jika pun ada yang baru beramal di usia senjanya, maka mereka memang baru menemukan hidayah di usia itu, tapi tak semua orang bisa mendapatkannya.

- Advertisement -

Karenanya, bergegaslah. Beramal salehlah. Berapa pun usia kita saat ini. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?