Dosa Seberat Bumi dan Langit, Tapi Dimasukkan ke Surga

Mari merenungi dengan hening sebuah riwayat agung yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala dalam menafsirkan ayat ke-151 surat al-An’am [6], “Dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia.”

- Advertisement -

Ialah hadits dari sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan dalam kitab Musnad dan Sunan. Dari periwayatan Imam at-Tirmidzi Rahimahullahu Ta’ala, hadits ini memiliki derajat hasan shahih.

Di dalam hadits qudsi ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak cucu Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan memberikan ampunan atas apa yang kalian kerjakan dan Aku tidak akan mempedulikannya lagi.

Jika kalian datang kepada-Ku dengan dosa yang sama beratnya dengan bumi, maka Aku akan mendatangkan ampunan kepadamu seberat itu pula, selama kalian tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun.

Dan jika kalian melakukan dosa hingga menyamai dengan tingginya langit, lantas kalian memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku pasti memberikan ampunan kepadamu.”

Inilah di antara kaidah penting terkait dosa dan pengampunan dari Allah Ta’ala yang harus dipahami oleh setiap orang Islam dan beriman. Bahwa semua manusia pasti pernah melakukan dosa, akan tetapi Allah Ta’ala Maha Pengampun atas dosa hamba-hamba-Nya selama mereka tidak berlaku syirik.

Kaidah ini dipertegas dalam banyak ayat, seperti surat an-Nisa [4] ayat 48 dan 116.

- Advertisement -

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu, bagi siapa yang Dikehendaki-Nya.”

Maka tauhid menjadi sangat penting dalam keseluruhan hidup yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Ia adalah pangkal keselamatan, jaminan surga, dan pencegah seorang hamba dari neraka yang amat menyakitkan siksanya.

Sebagai penguat dalam kaidah agung ini, Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahihnya dari jalur sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “Barang siapa yang meninggal dunia dalam kondisi tidak mempersekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apa pun, maka dia akan masuk ke dalam surga.”

Tidak syirik juga menjadi jaminan bagi seorang hamba untuk bertemu dengan Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam surat al-Kahfi [18] ayat 110.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -