Malulah kepada Mereka

Rasa-rasanya, kita ini terlau menzalimi diri. Bukan zalim lantaran bersusah payah beramal, tetapi sebaliknya; kita sibuk berdebat, tetapi sedikit amal. Pun, saat berada di tengah-tengah bulan penuh keberkahan ini. Kita, dari dulu hingga kini, dari pertama kali menjalani Ramadhan hingga sekarang, rasa-rasanya amat zalim sebab banyak berdalil, tetapi sangat sedikit melakukan amal saleh yang disunnahkan.

- Advertisement -

Lantaran banyak berdebat itu pula, kita harus merasa malu. Lebih-lebih, malu kepada para pendahulu umat ini. Ialah mereka yang berhasil mengukir Ramadhan dengan amal terbaik. Yaitu amal yang ikhlas, yang karenanya senantiasa menjadi inspirasi dan diteladani oleh generasi-generasi selepasnya hingga akhir zaman kelak.

Kepada mereka itulah, seharusnya kita merasa amat malu. Semalu-malunya. Bagaimana tidak, sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi, dan dikutip oleh Dr ‘Aidh al-Qarni, bahwa Karaz bin Wabarah mengkhatamkan al-Qur’an delapan kali dalam sehari. Empat kali di malam, dan jumlah serupa di siangnya.

Bukankah seharusnya kita merasa malu? Pasalnya, sebab sibuk berdebat terkait ini dan itu di berbagai forum, baik dunia nyata maupun maya, waktu kita benar-benar habis dan menguap tanpa amal di dalamnya. Bilangan dua puluh empat jam dalam sehari yang diberikan kepada kita, hangus bersamaan dengan busa kesia-siaan yang meluncur deras dari lisan yang seharusnya dimanfaatkan dalam mendaras Kalam-Nya yang mulia.

Karaz bin Wabarah, bukanlah satu-satunya. Selain beliau, kita tentu akrab dengan Imam asy-Syafi’i yang madzhabnya menjadi anutan di negeri ini. Beliau yang lahir di Gaza, yang negerinya tengah dijajah oleh Zionis terlaknat itu, masyhur kita ketahui senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an dua kali di bulan Ramadhan.

Maka, jika Ramadhan terdiri dari tiga puluh hari, beliau khatam sebanyak enam puluh kali. Tidakkah kita malu, kemudian bertanya dalam-dalam kepada nurani diri; kita berapa kali khatam? Apakah lebih sedikit khatam cukup untuk meneladani imam yang madzhabnya kita dambakan dan anut itu? Dan, tidakkah kita tergerak dan sungguh-sungguh dalam meneladaninya? Bukankah, Ramadhan hanya satu bulan dari dua belas bulan yang Allah Ta’ala pergilirkan sebagai bilangan waktu?

Aduhai, tidakkah kita merasa benar-benar malu karenanya? Jika tiada malu, barangkali hati ini sudah beranjak membatu sebab kesombongan yang ditumpuk, dan kebodohan yang dipelihara serta dibanggakan. Rabbi… Ampuni kami. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...