Tahu Makanan Imam Ahmad, Penguasa Sadar Tak Bisa Menundukkannya

Ishaq bin Ibrahim ingin mengetahui seperti apa makanan Imam Ahmad. Sebagai amir, ia penasaran dengan ulama kharismatik yang begitu gagah di hadapan penguasa.

- Advertisement -

Ishaq pun meminta An Naisaburi untuk memberitahukan seperti apa menu buka puasa Imam Ahmad. Seperti diketahui, imam besar itu biasa menunaikan puasa sunnah.

Tak hanya memberitahukan, An Naisaburi justru memperlihatkan. Diajaklah sang amir untuk ke rumah Imam Ahmad agar mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana menu buka puasa sang penulis Musnad itu.

Ishaq kaget. Rupanya menu buka puasa Imam Ahmad hanya dua potong roti dan mentimun.

“Pantas saja ia tidak mau menuruti kata-kata kami. Rupanya ia sudah merasa cukup dengan makanan seperti ini,” kata Ishaq.

Apakah setiap hari makanan Imam Ahmad seperti itu? Putranya memberikan kesaksian bahwa sering kali lebih sederhana dari itu.

“Terkadang aku melihat ayahku mengambil potongan roti. Karena berdebu, beliau mengibaskan roti itu terlebih dulu baru meletakkannya di atas piring lalu menuangkan air hingga basah. Beliau mencampurkan sedikit garam lalu memakannya,” Shalih bin Ahmad menuturkan betapa zuhud kehidupan ayahnya.

- Advertisement -

Tak hanya makanan, Imam Ahmad juga sangat sederhana dalam tempat tinggal. “Rumah Imam Ahmad adalah rumah yang sederhana, kecil dan sempit,” tutur Abdul Malik Al Maimuni.

Padahal, Imam Ahmad bisa mendapatkan uang tanpa bekerja (passive income). Ia memiliki sejumlah rumah dan toko yang disewakan. Ia juga dengan mudah bisa mendapatkan donasi dari murid-muridnya yang kaya.

Suatu ketika, Ishaq bin Rawahaih melihat Imam Ahmad tampak kehabisan uang tunai. Ia pun menawarkan bantuan kepada beliau. Namun, Imam Ahmad menolaknya. Beliau lebih memilih merajut celana dan menjualnya.

Dengan zuhud semacam inilah, Imam Ahmad demikian mulia di hadapan murid-muridnya, masyarakat dan penguasa. Tak hanya dicintai, Imam Ahmad juga sangat disegani. Penguasa sekaya apa pun tak pernah bisa menundukkannya.

Bahkan saat penguasa itu memusuhi Imam Ahmad karena pendirian beliau menolak menyatakan Al Qur’an sebagai makhluk, para penguasa hanya bisa memenjarakan dan menyiksa Imam Ahmad. Berhadapan dengan ulama zuhud yang teguh pendirian seperti itu, mereka tetap hormat dan segan. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...