Maha Sabarnya Allah

0
ilustrasi © Wikipedia

Mahasuci Allah Ta’ala dari segala jenis keburukan. Mahasuci Allah Ta’ala dari segala jenis kejahatan tuduhan orang-orang kafir. Dialah Raja dari segala Raja; yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Orang-orang kafir berkata, “Allah memiliki anak.” Kemudian Allah Ta’ala membalas tuduhan jahat mereka dengan mengatakan, “Mahasuci Allah. Bahkan apa yang ada di langit dan bumi; semua tunduk pada-Nya.” (al-Baqarah [2]: 116)

Betapa Allah Ta’ala memiliki kesabaran yang sempurna. Maka di antara nama-nama-Nya yang baik, ada ash-Shobur (Yang Maha Penyabar).

Itulah yang menjelaskan; Dia tak serta merta membalas siapa yang ingkar dengan mencela, menghina, atau mencaci maki ajaran yang disampaikan-Nya melalui Rasul-Nya yang mulia.

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia mendustakan-Ku,'” sabda Nabi dari Abullah bin ‘Abbas, “padahal tidak sepatutnya dia berbuat demikian.”

“Dan dia mencaci-Ku,” lanjut Allah Ta’ala dalam riwayat Imam al-Bukhari ini, “padahal tidak sepatutnya dia berbuat demikian.”

“Dusta terhadap-Ku,” terang Allah Ta’ala berikutnya, “adalah anggapan bahwa Aku tidak sanggup mengembalikannya seperti semula.

Sedangkan celaan kepada Allah Ta’ala, “Adalah pernyataan bahwa Aku memiliki anak.” Pungkas-Nya menegaskan, “Mahasuci Aku dari mengambil istri dan anak.”

Orang-orang yang ingkar dan sesat terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beranggapan bahwa Allah Ta’ala memiliki anak. Dalam riwayat yang lain, mereka mengklaim bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah anak dan kesayangan Allah Ta’ala.

Padahal, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Dia Mahasuci, Dia berbeda dengan makhluk-Nya.

Di dalan shahihain, Imam al-Bukhari dan Muslim menyebutkan, “Tidak ada seorang pun yang lebih sabar atas gangguan yang didengarnya daripada Allah Ta’ala.” Sebab, “Mereka menganggap Allah Ta’ala memiliki anak, padahal Dia-lah yang memberi rezeki dan kesehatan kepada mereka.”

Betapa bodohnya orang-orang kafir yang menganggap Allah Ta’ala memiliki sifat seperti makhluk. Mereka memiliki penyakit hati, dan semakin bertambah lantaran keengganan dan sifat keras kepala.

Alhasil, mata dan hati mereka buta dari melihat cahaya kebenaran nan benderang; telinga mereka tuli dari hidayah yang mengalun syahdu di setiap jenak.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari keterputusan hidayah. [Pirman]

Berita sebelumyaInilah Sifat Rasulullah dalam Kitab Taurat
Berita berikutnyaPertengkaran Yahudi dan Nasrani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.