Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian ada atsar dari para Sahabat yang menunjukkan tanda-tandanya.

- Advertisement -

Dialah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibadah di malam itu lebih baik daripada 83 tahun di waktu lainnya. Karenanya tidak heran jika seluruh umat Islam ingin mendapatkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang lailatul qadar,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Tahukah kamu apa lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al-Qadar : 2-3).

Sayyid Sabiq menjelaskan makna ayat ini. Penulis Fiqih Sunnah itu mengatakan: “Maksudnya adalah, beramal pada malam itu dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an nilainya lebih utama daripada amalan yang sama selama seribu bulan yang tidak memiliki lailatul qadar.”

Baca juga: Minal Aidin wal Faizin

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam Berapa?

- Advertisement -

Tak seorang pun bisa memastikan kapan terjadinya lailatul qadar di tahun ini. Dalam banyak riwayat disebutkan secara umum bahwa lailatul qadar turun pada sepuluh hari terakhir. Lebih sempit lagi adalah pada malam-malam ganjil. Yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan.

Lalu, mengapa judul di atas lebih sempit lagi? Lailatul qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan? Ini dikarenakan adanya sejumlah argumentasi sebagai berikut.

Pertama, adanya hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Secara khusus Rasulullah mengisyaratkan lailatul qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan.

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh. (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

- Advertisement -

Selain hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar di atas, ada pula hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas. Kedua sahabat ini memegang keyakinan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27. bahkan, Ubay bin Ka’ab pernah bersumpah akan hal itu karena tanda-tanda lailatul qadar yang ia lihat pada malam ke-27 itu.

قَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ – يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى – وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Ubay (bin Ka’ab) berkata, “Demi Allah yang tiada ilah kecuali Dia. Sesungguhnya ia (lailatul qadar) terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk qiyamul lail, yaitu malam ke-27. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang sinarnya tidak menyilaukan.” (HR. Muslim)

Penjelasan lebih lanjut mengenai tanda lailatul qadar bisa dibaca di artikel Tanda Lailatul Qadar.

Jadi, Bagaimana Cara Mengejar Lailatul Qadar?

Bagi yang ingin bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar, tentu ia tidak akan membatasi dirinya pada malam 27 saja. Sebab, betapapun kuat dalil keduanya, ia bukan satu kepastian yang menjamin bahwa lailatul qadar pasti jatuh pada malam 27 Ramadhan.

Banyak ulama menjelaskan bahwa hadits-hadits itu menjadi dalil bahwa lailatul qadar pernah terjadi pada malam 27. Bukan memastikan bahwa setiap tahunnya jatuh pada malam 27 Ramadhan.

Mereka yang ingin lebih dekat kepada Allah, lebih mengikuti sunnah Rasulullah, serta ingin mendapati lailatul qadar hendaklah bersungguh-sungguh pada malam ganjil 10 hari terakhir.

Sebagaimana wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ

Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)

Bagaimana praktik yang dicontohkan Rasulullah? Ternyata beliau bukan hanya “serius” di malam ganjil. Namun di seluruh sepuluh hari terakhir, dengan menunaikan i’tikaf.

Maka Syaikh Yusuf Qardhawi pun menyarankan, “Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits di atas adalah malam ke-21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara, sebagaimana yang kita saksikan sekarang, maka malam-malam ganjil di sebagian wilayah adalah malam genap di wilayah lain. Sehingga untuk hati-hati, carilah lailatul qadar ini di seluruh malam sepuluh terkahir Ramadhan.”

Dan karena malam ini adalah malam 27 Ramadhan, semangat dan kesungguhan itu harus lebih besar. Selain karena kemungkinannya lebih besar, ia juga merupakan hari-hari terakhir Ramadhan yang menentukan kualitas amal dari penghujungnya.

“Jika kuda pacuan telah mendekati garis finish, ia mengerahkan seluruh tenaganya agar mencapai kemenangan,” kata Ibnul Jauzi mengingatkan kita. “Maka jangan sampai kuda itu lebih cerdas darimu. Sebab amal itu ditentukan oleh penutupnya.”

Penjelasan lengkap mengenai tanda lailatul qadar, doa dan ciri orang yang mendapatkannya bisa dibaca di artikel Lailatul Qadar. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kebahagiaan Hakiki, Hikmah dari Cerita Danau Sebening Air Mata

Seorang pemuda mengembara sekian lama demi menemukan hakikat kebahagiaan. Ia bertanya pada banyak orang. Juga para sufi. Apa itu kebahagiaan hakiki.

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...