Diremehkan Sebagian Kaum Muslimin, Tapi Sunan Bonang Memarahi Pelakunya

Kanjeng Sunan Bonang sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat merupakan salah satu guru Kanjeng Sunan Kalijaga. Sudah pasti, beliau memiliki ilmu yang luas dan kedalaman hikmah terkait kehidupan.

- Advertisement -

Suatu hari beliau dalam perjalanan dakwah bersama murid-muridnya. Perjalanan jauh yang menguras tenaga, menerbitkan haus dan lapar. Jika bukan lantaran sabar dan berharap ridha Allah, pasti banyak murid beliau yang berguguran atau memilih istirahat.

Namun, semuanya taat dan mengikuti jejak sang guru dengan kesabaran tingkat tinggi.

Di tengah perjalanan, rombongan dakwah ini menemukan sebuah tempat peristirahatan. Di sana, mereka juga mendapatkan rezeki untuk sekadar menghilangkan haus dan lapar.

Lantaran sengatan lapar nan akut, ada murid yang makan dengan terburu-buru hingga banyak nasi menempel di sekitar mulutnya. Melihat kejadian itu, Kanjeng Sunan mengingatkan agar sisa nasi dibersihkan.

Si murid ternyata ketakutan. Ia membersihkan sisa makanan di sekitar mulutnya dengan terburu-buru. Sisa nasi berjatuhan ke tanah.

Melihat apa yang dilakukan muridnya, sang Sunan kembali menegurnya, “Apa yang kamu lakukan? Tidak seharusnya engkau membuang nasi yang menempel di sekitar mulutmu.”

- Advertisement -

Si murid bergegas mengambilnya, lantas kembali memasukkannya ke dalam mulut.

Belum genap masuk ke dalam mulut, Sunan Bonang kembali menegur lebih kencang, “Mengapa kamu melakukan itu? Nasi itu kotor. Sudah bercampur dengan kuman. Memakannya bisa menimbulkan penyakit!”

Sang murid semakin bingung. Dia belum memahami maksud gurunya itu sampai datangnya penjelasan.

***

Kanjeng Sunan Bonang hendak mengajarkan dua hal kepada kaum Muslimin melalui kisah ini.

- Advertisement -

Pertama, jangan sampai ada sisa atas makanan yang kita nikmati. Semua yang menempel di sekitar mulut atau di tempat makan harus habis. Selain agar tidak mubadzir, kita tidak mengetahui dimana letak berkah dalam makanan tersebut.

Kedua, jika memang ada yang sisa hendaknya diniatkan untuk binatang-binatang yang pasti ditaqdirkan untuk memakannya. Seperti semut, serangga, atau binatang lainnya. Tentu harus diniati dan diatur dengan baik agar membuang makanan tidak menjadi sebuah budaya buruk.

Jadi, makanlah dengan benar. Jangan biarkan mubadzir. Berbagilah dengan menyisihkan seperlunya. Tidak perlu berlebihan sebab jika tidak habis bisa menimbulkan sampah dan kekotoran.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...