Kesempurnaan Nikmat Menurut Rasulullah

1

Ada begitu banyak karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala sehingga mustahil untuk dihitung satu persatu. Pertanyaannya, dari sekian banyaknya nikmat itu; manakah nikmat yang paling sempurna? Apakah harta, jabatan, dan pasangan hidup? Ataukah yang lainnya?

Mu’adz bin Jabal mengisahkan, ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghampiri seorang laki-laki. Ia tengah memanjatkan pinta kepada Allah Ta’ala, “Ya Allah, aku memohon kepadamu sempurnanya nikmat.”

Mengetahui kalimat permintaan laki-laki itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun melayangkan tanya, “Wahai anak Adam, apakah engkau tahu kesempurnaan nikmat itu?”

Mendapatkan pertanyaan dari sang Nabi yang mulia, maka lelaki itu pun sampaikan jawaban, “Wahai Rasulullah, aku hanya berdoa dengan mengharapkan kebaikan.”

Sebelum mengetahui jawaban Nabi terkait makna kesempurnaan nikmat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Ahmad bin Hanbal sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam ‘Uddatush Shabirin ini, apakah kesempurnaan nikmat dalam pemahaman kita?

Apakah nikmat yang sempurna itu berupa kondisi kemakmuran hidup dengan kecukupan bahan makanan untuk waktu tertentu, jumlah harta yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi sekian dalam waktu sekian lamanya, rumah, kendaraan dan semua fasilitas penunjang lainnya, ataukah yang lainnya?

Apakah kesempurnaan nikmat itu berupa pasangan hidup yang didamba? Yang cantik atau tampan, tinggi semampai, bercahaya make up di wajah dan tubuhnya, berkilau dan lurus rambutnya, atau bidang dada dan memesona lekuk serta tonjolan badannya?

Apakah ilmu yang banyak sehingga dirujuk banyak kalangan, meski dirinya tak mendapat manfaat sebab mengingkari kebenaran dan merasa pandai? Ataukah keadaan disegani lantaran tingginya jabatan dan pengaruh di berbagai lini kehidupan, mulai dari tingkat Rukun Tetangga hingga Negara?

Apakah kesempurnaan nikmat itu berupa banyaknya anak sehingga bisa berbangga dan tercukupi ragam kebutuhannya ketika usia senja menyapa? Apakah ia berupa keadaan ketika semua kebutuhan hidup dunia tercukupi dengan tanpa bersusah payah?

Rupanya, menurut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kesempurnaan nikmat hanya terdiri dari dua komponen yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Sabda Nabi mengakhiri hadits yang mulia ini, “Kesempurnaan nikmat adalah selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga.”

Ya Rabbi, masukkan kami ke dalam surga-Mu, dan selamatkan kami dari siksa neraka-Mu. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaBisul Penambah Iman dan Takwa
Berita berikutnyaTiga Tuduhan Keji terhadap ‘Utsman bin ‘Affan dan Bantahannya

1 KOMENTAR

  1. Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar…
    Laa haula walaa quwwata illa billah…

    Rabbana aatina fiddunya chasanah wafil aakhirati chasanah waqinaa adzaa bannar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.