Kapan Pekerjaan Terhitung Fi Sabilillah, Kapan Terhitung di Jalan Syetan? Ini Kisahnya di Zaman Nabi

0
pekerjaan fi sabilillah
Kerja keras © Dito/Flickr

Pekerjaan yang sama, yang sekilas tampak mubah, ternyata bisa terhitung sebagai amal fi sabilillah (di jalan Allah). Tapi, bisa pula terhitung sebagai fi sabilisy syaithan (di jalan syetan).

Hari itu para sahabat berada di dekat Rasulullah. Lalu lewatlah seorang laki-laki yang tampak bersemangat dan sedang bekerja keras. Sebagian sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya semangat dan tenaga orang itu disalurkan di jalan Allah”

Rasulullah mengerti maksud sahabat tadi. Ia membayangkan jika semangat dan energi laki-laki tersebut dipakai untuk keperluan fi sabilillah, tentulah itu akan sangat baik. Akan tetapi, Rasulullah tidak sepenuhnya menyetujui pandangan ini. Beliau pun bersabda:

“إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

“Jika ia keluar untuk bekerja demi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia fi sabilillah (di jalan Allah). Jika ia keluar untuk bekerja demi dua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia fi sabilillah (di jalan Allah). Jika ia keluar untuk bekerja agar tidak meminta-minta, maka ia fi sabilillah (di jalan Allah). Sedangkan jika ia keluar untuk bekerja karena riya’ dan bangga diri, maka ia fi sablilisy syaithan (di jalan syetan).” (HR. Thabrani; shahih lighairihi)

Saudaraku, demikianlah indahnya Islam. Demikianlah niat dan motivasi menentukan di mana kita berada. Pekerjaan yang sama, punya nilai yang sangat berbeda tergantung niatnya. Dan Allah memberikan begitu banyak kemuliaan melalui banyak cara.

Bekerja yang menurut banyak orang adalah aktifitas yang biasa-biasa saja, bisa menjadi fi sabilillah dalam pandangan Allah jika disertai niat dan motivasi yang benar. Dan motivasi yang benar dalam bekerja itu tidaklah memberatkan. Cukuplah ketika bekerja kita bersemangat dengan motivasi memberi nafkah keluarga dan anak-anak kita, agar mereka bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup, pakaian serta tempat tinggal yang layak serta pendidikan yang baik agar tumbuh menjadi anak-anak shalih dan generasi muslim yang tangguh.

Cukuplah ketika bekerja, kita bersemangat dengan motivasi menafkahi orang tua kita yang sudah renta yang tak lagi mampu bekerja. Kepada siapa mereka berharap jika tidak kepada kita anak-anaknya. Apakah kita yang sejak bayi selalu merepotkan mereka, membiarkan mereka di usia senja menjadi orang yang terlantar dan menyusahkan tetangga?

Cukuplah ketika bekerja, kita bersemangat dengan motivasi agar kita tidak menjadi peminta-minta. Motivasi-motivasi ini cukup membuat pekerjaan kita dihitung fi sabilillah.

Namun jika kita bekerja agar dilihat manusia dan dikatakan sebagai orang berkedudukan, berpangkat, berprofesi elit dan hanya membuat kita berbangga diri; termasuk dengan hasil pekerjaan yang kita wujudkan dalam bentuk rumah, kendaraan dan perhiasan yang semuanya tidak menambah apapun kecuali gengsi; takutlah! Pada saat itu sesungguhnya kita sedang berada di jalan syetan.

Pekerjaan yang sama, nilainya bisa berbeda dalam pandangan Allah Azza wa Jalla. Tergantung niat dan motivasi kita. [Muchlisin BK/kisahikmah.com]

Berita sebelumyaAmalan yang Lebih Dicintai Rasulullah daripada Iktikaf Sebulan
Berita berikutnyaIngin Memperoleh Sejuta Kebaikan? Bacalah Kalimat Dzikir Ini
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah