Jika Orang Tua Perintahkan Maksiat

0

Pemuda ini langsung menerima Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, ia harus menghadapi ibunya yang masih kafir. Bukan hanya menentang, sang ibu juga mengancam, “Keluarlah dari Islam, atau aku tidak akan makan hingga mati. Dan orang-orang Arab akan menjulukimu sebagai ‘pembunuh ibunya’.”

Dilema. Berislam adalah kemestian. Berbakti kepada orang tua juga merupakan amal saleh yang amat mulia. Apalagi, dalam kasus ini, jika sang pemuda tetap dalam keadaan Islam, sang ibu bisa mati sebab tidak makan dalam waktu yang lama.

Rupanya, pemuda yang bernama Sa’ad anak Abi Waqqash ini benar imannya. Atas ancaman ibunya, ia berkata dengan penuh keyakinan, “Demi Allah, wahai ibuku,” lanjut sang anak, “jika ibu memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu per satu,” ujarnya penuh keyakinan yang mantap, “aku tidak akan meninggalkan keislamanku.”

Hari pertama, ibunya bulat dengan aksinya. Pagi, siang, sore, malam, hingga ketemu pagi lagi, bulat selama dua puluh empat jam; ia tak menyentuh makanan secuil pun. Memasuki hari kedua, sang ibu tetap kokoh dengan aksinya. Genap empat puluh delapan jam, ibunya masih kuat dengan mogok makan.

Memasuki hari ketiga, pertahanan sang ibu dalam menahan lapar mulai goyah. Tak bisa ditahan. Alhasil, ibunya pun mengonsumsi makanan. Aksi mogok makannya gagal. Dan, Sa’ad berhasil mempertahankan keislamannya.

Seperti Sa’ad inilah selayaknya kita menyikapi perintah orang tua yang berlawanan dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika perintah orang tua berlawanan dengan anjuran keduanya, maka tidak menuruti adalah bentuk taat yang paling baik kepada orang tua kita.

Tentunya, ada adab yang harus dijaga. Ialah dengan perkataan, dan perbuatan yang ahsan. Jangan sampai membentak, berkata kasar, apalagi sampai melakukan kontak fisik.

Pasalnya, dalam kisah Sa’ad ini, Allah Ta’ala menegurnya dengan menurunkan surat Luqman [31] ayat 15,

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Allah Ta’ala memuji ketegaran Sa’ad yang tetap dalam Islam, tapi menegurnya terkait jawaban yang dialamatkan kepada ibunya. Padahal, jika kita seksamai, jawaban Sa’ad masih sopan. Tapi, begitulah mulianya ibu. Karenanya, kita harus memperlakukannya dengan perlakuan terbaik. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaGaji Besar Tapi Keluarga Berantakan? Inilah Solusinya
Berita berikutnyaBeginilah Cara Berbakti kepada Orang Tua Non-Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.