Itu adalah Shalatnya Orang Munafik

9

Jika saat ini shalat yang kita dirikan sudah rutin; lima waktu, berjamaah awal waktu di masjid, lengkap dengan rawatib, dan keutamaan-keutamaan lainnya, baiknya kita tidak terlalu bangga dan senantiasa memperbaiki kualitas shalat yang telah kita dirikan itu.

Sebab, ada shalat yang disebut oleh Nabi sebagai shalatnya orang Munafik. Dan, tidak diketahui oleh orang lain, selain pelakunya dan Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Shalatnya orang munafik tidaklah khusyuk. Demikian itulah yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya. Kemudian, “Mereka tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.” Bahkan, lanjut beliau menjelaskan, “Mereka lalai dalam shalat, bermain-main, dan berpaling dari kebaikan yang dituju.”

Alhasil, shalat yang didirikan tidak bisa menjadi pencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bahkan, bisa jadi, mereka menjadi bagian atau penyeru kemungkaran tersebut. Na’udzubillah.

“Itu adalah shalatnya orang munafik. Itu adalah shalatnya orang munafik. Itu adalah shalatnya orang munafik.” Kalimat itu disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik.

Dijelaskan dalam kalimat berikutnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, “Ia duduk menunggu matahari. Ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, kemudian ia shalat (bagaikan burung) mematuk empat kali (shalatnya cepat-cepat).”

Mereka menunda pelaksanaan waktu shalat hingga mendekati akhir waktu. Dhuhur dikerjakan menjelang Ashar; Ashar dilakukan ketika Maghrib di ambang pintu; Maghrib dikerjakan hampir bersamaan dengan waktu ‘Isya’; dan ‘Isya’ baru dilakukan di ambang fajar ketika Shubuh akan menyapa dalam jenak. Kemudian Shubuh dilakukan dengan cepat dan terburu-buru ketika matahari mulai menampakkan sinarnya.

Selain menunda, lanjut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i dengan derajat hasan shahih ini, “Mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala di dalamnya (shalat), kecuali sedikit saja.”

Padahal, di antara tujuan disyariatkannya shalat sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an adalah agar para pelaku shalat senantiasa mengingat-Nya di dalam dan di luar shalat; dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari shalatnya orang munafik; yang melakukan shalat untuk menipu Allah Ta’ala, dan mengelabui orang-orang beriman. [Pirman]

Berita sebelumyaJika Tahu, Mereka Akan Datang dengan Merangkak
Berita berikutnyaTaubatnya Penyanyi dan Pemain Musik lantaran Satu Kalimat

9 KOMENTAR

  1. Awal pembahasan di tulis shalat tepat waktu & berjamaah jangan bangga dulu,ada tanda2 orang munafik tp isi nya shalat tdk tumaninah & Di ujung waktu yg munafik….please judul & isi …..?jgn bikin pembaca….? Makasih

  2. Ya Allah aku berlindung padamu dari sifat Munafik, Dusta, Dengki, Riya, Takabur
    Ya Allah jadikanlaah kami hamba-hambamu yang selalu bertaubat, senantiasa menyucikan diri dan jadikanlah kami hamba-hambamu yang soleh Amiin…

  3. Yg nulis jg harus hati2 jgn smp disebut muna.. !! sering nulis dakwah waktu tersita depan LCD tp sedikit amalannya,,,, yg penting banyak yg baca… hehehe …. Salam ustad..!!!

  4. Lah ga jelas ni.. Yang munafik itu yang nunda waktu shalat? Shalat yang terlalu cepat/tidak tumaninah? atau yang berbangga diri dengan ibadahnya? Untuk mencapai kekhusyukan di dalam ibadah/shalat itu tidak mudah butuh waktu puluhan tahun.. Saya sendiri masih belum bisa khusyuk di dalam shalat, berarti saya munafik? Kalau ada yang mengaku sudah bisa khusyuk di dalam ibadah pastinya akan terlihat dari akhlak, tutur kata, tingkah laku dan kepribadian sehari-hari.. Karena Allah SWT senantiasa bersama dirinya..Tutur katanya adalah kebaikan dan dakwah.. Akhlaknya mulia sesuai dengan Al Quran dan SunnahRasulullah.. Pikirannya huusnudzon selalu..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.