Inilah Tiga Tanda Orang Beriman kepada Allah dan Hari Kiamat (Bagian 3)

tamu

Lanjutan dari Inilah Tiga Tanda Orang Beriman kepada Allah dan Hari Kiamat (Bagian 2)

Ketiga, memuliakan tamu

- Advertisement -

Kita akrab dengan kalimat “Tamu adalah raja” yang merupakan salah satu anjuran kebaikan agar seseorang memuliakan tamu. Dalam Islam, tamu mendapatkan tempat yang baik, bahkan harus dimuliakan.

Seseorang dianggap tamu dalam tiga hari kunjungannya. Di hari pertama kedatangannya, tamu berhak atas jamuan istimewa melebihi jatah makan keluarga yang ditamui dalam sehari itu. Kemudian di hari kedua dan ketiga, tamu cukup dijamu sesuai dengan makanan keluarga tuan rumah.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Menjamu tamu itu tiga hari, hadiahnya sehari semalam dan selebihnya adalah sedekah.” (Hr. Imam Muslim)

Di antara adab menyambut dan memuliakan tamu adalah:

1. Menyambut dengan wajah berseri-seri
2. Berbicara dengan baik
3. Menghadirkan makanan dan minuman dengan segera sesuai kemampuan
4. Menyediakan tempat istirahat representatif sesuai dengan kemampuan

Bagi kaum muslimin yang bertamu, meski berhak baginya pemuliaan dari saudara muslim yang ditamui, ada juga adab-adab yang mesti diperhatikan. Di antaranya tidak menyulitkan dan mengganggu ketenangan tuan rumah dengan berlama-lama di rumahnya tanpa sebab.

- Advertisement -

“Tidak halal bagi seorang muslim tinggal di rumah saudaranya hingga membuatnya berdosa,” sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam suatu ketika. Kemudian, sahabat yang hadir bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dia bisa membuatnya berdosa?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pun menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Syuraikh, “Dia tinggal di rumahnya sedang dia (tuan rumah) tidak mempunyai sesuatu pun untuk menjamunya.”

Demikianlah tiga tanda orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Kiamat. Masih banyak tanda-tanda lain yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam berbagai riwayatnya yang shahih. Dalam tulisan ini, kami mencukupkan bahasannya agar mudah dipahami oleh penulis dan pembaca. Semoga dengan memahami bisa memudahkan kita untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba yang berkata baik atau diam, hamba yang memerhatikan tetangga dengan kebutuhan fisik dan ruhani, juga piawai dalam memuliakan tamu yang berkunjung dalam hal kebaikan. Semoga dengan itu kita tergolong dalam manusia yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Kiamat. Aamiin. [Pirman]

Rujukan: “al-Wafi, Syarah Hadits Arba’in an-Nawawi”, Darul Uswah, Yogyakarta, 2013.

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -