Kisah Menyayat Hati Saat Gerhana di Zaman Nabi

Air mata Rasulullah berlinang saat peristiwa ini terjadi. Para sahabat pun tak kuasa menahan air mata.

- Advertisement -

Bagaimana tidak, putra beliau satu-satunya yang masih hidup, kini wafat juga. Sebelumnya, kedua putra beliau –Al Qasim dan Abdullah- telah tiada. Putri-putri beliau, Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum juga telah wafat. Tinggallah Ibrahim dan Fatimah.

Namun, satu-satunya putra Rasulullah dari Bunda Mariyah Al Qibtiyah itu kini juga wafat. Di usianya yang belum genap dua tahun.

“Engkau menangis, wahai Rasulullah?” tanya sahabat.

“(Tangisan) ini adalah kasih sayang. Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak disayangi,” jawab beliau seperti diketengahkan Ibnu Katsir dalam Al Fushul fi Siiratir Rasul. “Sungguh kami sedih karena kepergianmu, wahai Ibrahim. Air mata berderai dan hati bersedih, namun kami hanya mengatakan yang diridhai Allah.”

Yang lebih mengharukan, seperti diriwayatkan Imam Muslim, Ibrahim wafat saat berada di pelukan Rasulullah. Ayah mana yang tidak bersedih? Meskipun anak yang meninggal saat belum baligh pasti masuk surga, kehilangan anak adalah duka yang mengundang air mata.

“Sesungguhnya Ibrahim itu anakku dan ia meninggal dalam pelukanku,” sabda beliau. “Sungguh ada dua wanita yang akan meneruskan penyusuannya di surga.”

- Advertisement -

Pada hari wafatnya Ibrahim itu terjadilah gerhana matahari. Orang-orang mengaitkannya dengan kepergian putra bungsu Nabi tersebut.

“Matahari mengalami gerhana karena kematian Ibrahim,” kata mereka.

Di sinilah kita kembali melihat keteladanan agung Rasulullah. Meskipun dirundung kesedihan karena putranya wafat, beliau peka saat umat hendak salah melangkah. Keyakinan yang menghubungkan gerhana dengan kematian seseorang sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kematian putra Nabi sekalipun.

Maka Rasulullah pun mengingatkan,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

- Advertisement -

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya.” (HR. Muslim)

Baca juga: Panduan Lengkap Shalat Gerhana Bulan

Beliau kemudian menganjurkan kepada umatnya saat mendapati gerhana agar mengerjakan shalat gerhana, berzikir, berdoa, beristighfar dan bersedekah. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...