Empat Kriteria Taqwa menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib (2)

Lanjutan dari Empat Kriteria Taqwa menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib

Ridha dengan yang Sedikit

Orang-orang yang beriman tidak pernah melihat pemberian Allah Ta’ala dari segi jumlahnya. Mereka yakin, secuil apa pun, jika terdapat keberkahan di dalamnya, maka yang sedikit itu akan memberikan manfaat yang amat besar di dalam kehidupannya. Sebaliknya, jika tiada berkah, meski jumlahnya melimpah, meka orang tersebut akan senantiasa kekurangan di sepanjang hidupnya.

- Advertisement -

Selain itu, orang-orang beriman tidak melihat sedikit atau kecilnya jumlah yang mereka terima, tetapi mereka menyadari bahwa semua karunia itu diberikan oleh Allah Ta’ala Yang Mahabesar. Jadi, mereka qana’ah dengan pembagian dari Zat Yang Maha Mencukupi kebutuhan seluruh makhluk-Nya.

Mereka juga sadar, zuhud terhadap dunia akan membuat seseorang dicintai Allah Ta’ala, dan merasa cukup terhadap apa yang ada di sisi manusia akan membuat mereka disayang oleh sesamanya. Maka, besaran tak lagi penting baginya. Fokusnya ada pada cara mendapatkannya harus sebaik mungkin, lalu disalurkan di jalan Allah Ta’ala sesegera mungkin setelah mencukupkan untuk kebutuhan diri dan keluarganya.

Termasuk dalam sikap ridha ini ialah tidak mengeluh. Misalnya, mereka tidak mengatakan, “Duh, aku sudah rajin shalat, senantiasa mendatangi majlis taklim, beramal, tapi kok masih miskin dan begini-begini saja kehidupannya?”

Bersiap-siap Untuk Akhirat

Sebagai konsekuensi atas sikap ketiga, maka sikap keempat ini pun ada. Merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala, meski jumlahnya sedikit, akan membuat seorang yang bertaqwa tidak memiliki hasrat mendalam terhadap dunia yang sementara.

Mereka lebih tertarik dengan akhirat yang abadi, lalu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiiki untuk mencari bekal terbaik, sehingga bahagia di kehidupan yang abadi itu. Mereka berkarya di dunia dengan sebaik mungkin, dan menginvestasikan hasilnya untuk kehidupan di akhirat.

Bisa jadi, mereka miskin. Tapi, karena orientasi akhiratnya, mereka pun bersabar dengan kesabaran terbaik agar kemiskinannya ini berbuah surga. Bisa jadi, mereka pun dikaruinai banyak harta oleh Allah Ta’ala, tetapi mereka memanfaatkannya secara optimal untuk keperluan dakwah dan jihad di jalan-Nya.

- Advertisement -

Karenanya, bersiap untuk akhirat bukan bermakna melupakan jatahnya di dunia. Akan tetapi, mereka mewakafkan jatahnya di dunia untuk Allah Ta’ala, dan kelak mereka ambil dalam kehidupan selepas kematiannya. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai pemimpin orang yang bertaqwa. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

*Rujukan: ceramah Habib Ali Zainal Abidin al-Hamid

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...