Dinasihati, Wanita Ini Malah Membentak Rasulullah

2

Adalah ujian yang berat ketika salah seorang anggota keluarga kita meninggal dunia. Maka hanya ketika mengalaminya, kita baru mengerti bahwa bersabar tak semudah yang diucapkan.

Meskipun, sebagai orang yang beriman kita harus mengupayakannya sesuai kemampuan terbaik. Pasalnya, saat ditimpa ujian berupa kehilangan orang yang disayangi, akal seseorang tak kuasa berpikir jernih karenanya.

Bahkan, di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ada seorang wanita yang sampai hati mengusir Nabi. Padahal, manusia paling mulia itu datang untuk menyampaikan nasihat cintanya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ada seorang wanita yang sedang menangis seraya bersimpuh di sebuah makam.

“Wahai Ibu,” sabda Nabi, “bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.”

Sambar si ibu, “Wahai hamba Allah, anakku meninggal dunia.”

Dengan tak berkurang kelembutannya, Nabi mengulangi petuah sayangnya, “Wahai Ibu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.”

Tukas ibu itu bertambah kesal, “Wahai hamba Allah,” bentaknya keras, “seandainya engkau mengalami musibah sepertiku, niscaya kau akan memaklumiku.”

Tidak surut, Nabi pun menyampaikan nasihat yang sama untuk ketiga kali, “Wahai Ibu,” ungkap Nabi lembut, “bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.”

“Wahai hamba Allah,” seru wanita itu kesal, “engkau sudah mengatakannya.” Lanjutnya tanpa segan, “Maka enyahlah dariku.”

Setelah yang ketiga, Nabi pun berlalu tanpa mengatakan apa pun. Hingga beberapa saat kemudian datanglah seorang sahabat menghampiri wanita itu.

Sahabat itu bertanya, apa yang dilakukan oleh orang yang baru saja pergi dan apa jawaban/balasan yang diberikan oleh ibu itu.

Maka dikisahkanlah apa yang terjadi. Dan, betapa terperanjatnya ibu itu saat mendengar perkataan sang penanya, “Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Lantas bergegaslah wanita itu mengejar Nabi nan mulia yang telah diusirnya lantaran sedih yang bercampur emosi.

“Aku bersabar, aku bersabar, wahai Rasulullah…” ungkap wanita itu setelah berhasil mengejar Sang Nabi.

“Yang namanya sabar,” sabda Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Abu Ya’la, “hanyalah pada benturan pertama.”

Dalam ‘Uddatush Shabirin, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa Nabi mengulang sabdanya itu dua kali.

Betapa memang sabar itu tidak mudah. Maka semoga kita menjadi hamba yang bersabar karena Allah Ta’ala. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaDua Tanda Rabunnya Mata Hati Menurut Ibnu Athailah as-Sakandari
Berita berikutnyaKeutamaan Memberi Nafkah

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.