Betapa Nikmatnya Bermaksiat…

Oleh : Ibrahim Dwi Santoso

- Advertisement -

Tidak ada yang menyangka jika seorang senior dalam aktivis dakwah, sering menjadi pembicara dalam beberapa even, dihormati oleh karib-karibnya, menyimpan rahasia besar yang mungkin hanya ia, Allah Ta’ala dan malaikat-malaikat-Nya yang mengetahui. Sama halnya seperti saya yang tidak menyangkanya ketika salah seorang teman menceritakan perihal ini.

Ketika ingin mencari beberapa data dari laptop seorang senior aktivis dakwah itu, tetiba juru kisah terkejut karena menemukan video-video tidak senonoh yang berada di dalam laptopnya. Video-video itu terlihat “sengaja” disimpan dalam folder yang diharapkan sulit ditemukan oleh orang lain. Tapi apa daya, tanpa sengaja, ia mengetahui aib sang senior itu.

Saya mencoba berhusnuzhan, “Mungkin video itu milik orang lain yang tersimpan dalam laptopnya.” Allaahu a’lam. Karena juru kisah sendiri tidak berani tabayun dengan seniornya itu. Segan.

Setiap manusia, apalagi yang hidup di zaman serbamudah bemaksiat, sangat mudah mengerjakannya dalam kesendirian. Mudah sekali menikmati kemaksiatan itu.

‘Alim di hadapan manusia, namun lalim jika hanya berhadapan dengan Allah Ta’ala adalah fenomena yang mungkin saja terjadi di kalangan aktivis dakwah. Kita yang mungkin melakukan hal yang serupa atau tidak melakukannya pun sangatlah perlu meningkatkan keimanan serta ketakutan kepada Allah ‘azza wa jalla agar Dia menjaga kita dari perbuatan demikian.

Kita harus meningkatkan kesadaran dalam hati, bahwa Allah Ta’ala Maha Melihat dan akan mengadzab jika kita bermaksiat.

- Advertisement -

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.” (at-Taubah [9]: 78)

Lantas, bagaimana nasib orang-orang tersebut di Hari Kiamat jika kematiaan datang sebelum sempat bertaubat?

Rasulullah bersabda, “Sungguh, saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.”

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.”

- Advertisement -

Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian. Mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihat), mereka bersama dengan apa-apa yang diharamkan Allah (bermaksiat). Maka mereka (terus) melanggarnya.” (HR Ibnu Majah 4235, berkata Al- Mundziri: para periwayatnya tsiqoh. Dishahihkan oleh al-Albani)

Bukan hanya untuk orang-orang yang bermaksiat dalam kesendirian, karena mungkin saja ada sebagian manusia lain yang biasa diajak “berpatner” dalam kemaksiatan (seperti berzina dan yang sejenisnya), tapi keduanya malu dilihat oleh orang-orang yang mengenalnya (orangtua, teman sesama aktivis dakwah, dan yang semacamnya). Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa kabur dari penglihatan dan pendengaran Allah. Betapa seseorang telah merendahkan Allah, padahal Dia Mahakuat, jika mereka lebih takut bermaksiat di depan orang tua, teman sesama aktivis, atau orang-orang sekitar.

Jika dalam bermaksiat kita membatin “Allah Maha Penyayang. Kalaupun saya bertobat, pasti diampuni”, maka ketahuilah, kematian bisa datang kapan saja. Bahkan bisa jadi, kemaksiatan dalam kesendirian adalah penutup dari lembaran kehidupan yang telah kita ukir selama ini.

Jika di antara kita pernah berbuat demikian, bersegeralah bertaubat sebelum terlambat dengan perbanyak istighfar. Semoga Allah melindungi kita dari hasrat untuk bermaksiat. Jangan sampai hati kita bersaksi di hadapan Allah karena pernah membatin.

“Aduhai, betapa nikmatnya bermaksiat, tanpa ada yang melihat…” [Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -