Dianjurkan oleh Nabi sebagai Persiapan Menyambut Kematian, tapi Banyak Ditinggalkan Kaum Muslimin

Setiap yang hidup pasti mengalami mati. Cepat atau lambat. Disukai atau tidak. Mati merupakan satu-satunya konsekuensi paling pasti atas kehidupan yang diberikan oleh Allah Ta’ala, atas episode dunia yang kita jalani.

- Advertisement -

Maka orang yang cerdas, kata Nabi, ialah mereka yang menyadari pastinya kematian dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya bekal untuk menghadapi kehidupan setelahnya.

Di antara sekian banyak persiapan menyambut mati, ada satu hal yang luput kita biasakan. Padahal dari berbagai riwayat, satu hal ini sangat penting dan pasti dikerjakan oleh orang-orang shalih sebelum nyawanya diambil oleh Allah Ta’ala.

Di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 180, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Diwajibkan atas kamu-apabila seorang di antara kamu kedatangan maut-jika ia meninggalkan harta yang banyak, untuk berwasiat kepada ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf. Sebagai kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.”

Inilah dalil yang amat jelas agar masing-masing kita mempersiapkan diri menyambut kematian dengan berwasiat. Menyampaikan kepada yang masih hidup agar senantiasa istiqamah dalam Islam hingga akhir hayat, juga menyampaikan ihwal jual beli atau muamalat lain yang belum sempat dikelarkan.

Melengkapi penjelasan ayat di atas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam juga bersabda, “Tiada hak bagi seorng Muslim atas sesuatu yang dia wasiatkan setelah dua malam, kecuali wasiatnya tertulis padanya.”

Wasiat dalam hadits ini merupakan sebuah ketentuan resmi dan valid yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

- Advertisement -

Berwasiat amatlah penting, baik antara sesama orang yang masih hidup atau orang yang mendekati ajal kepada yang masih hidup. Sebab ada begitu banyak hak adam yang tidak serta merta mendapat permaafan, kecuali jika seseorang meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Lantaran kita tidak mengetahui kapan datangnya ajal, hendaknya wasiat ini ditulis dengan rapi dan dititipkan kepada pasangan, keluarga, sahabat, atau orang yang kita percayai. Agar dibaca dan kelak disampaikan kepada yang bersangkutan.

Amalan ini sangat penting. Keselamatan seseorang dalam kehidupan setelah mati erat kaitannya dengan pelaksanaan amalan ini. Bahkan ada dosa yang tidak diampuni jika amalan ini luput diselesaikan oleh diri maupun ahli waris.

Bagi yang dititipi wasiat, wajib baginya untuk melaksanakannya sebagaimana yang tertera secara jujur.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -