Amalan yang Lebih Disukai dari Sedekah Seratus Ribu Dirham

“Mengembalikan satu dirham karena mengandung syubhat lebih aku senangi daripada menyedekahkan seratus ribu dirham.” (Imam Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala)

- Advertisement -

Mari belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan memastikan kehalalan setiap teguk minuman atau suap makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Karena selain minuman dan makanan yang halal adalah bagian neraka, sebab tertolaknya doa, dan sumber dari berbagai jenis penyakit fisik, pikiran serta ruhani.

Seseorang pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu Ta’ala, “Dengan apakah hatimu menjadi lembut, wahai Imam?”

Laki-laki yang diuji oleh kezaliman penguasa pada masanya itu menjawab dengan amat tegas, “Dengan makanan yang halal.”

Berkacalah. Merenunglah. Lihatlah ke dalam hatimu. Apakah ia mengeras, berpenyakit, bahkan hampir mati? Apakah ia amat mudah menolak kebaikan dan bergegas saat mendukung keburukan? Jika demikian, lembutkanlah ia dengan hanya mengonsumsi minuman dan makanan yang halal. Jangan pernah berkompromi atau memaklumi segala yang syubhat apalagi nyata keharamannya.

Lalu sampailah kepada kita sebuah riwayat nan agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Ialah seorang laki-laki yang kusut masai, badannya bau, rambut awut-awutan, dan busananya compang-camping.

Laki-laki ini terlihat serius, menengadahkan tangan, memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala. Berdoa. Banyak yang dia pinta. Bahkan sampai alirkan matanya. Menangis.

- Advertisement -

Namun mengejutkan. Oleh manusia paling mulai sepanjang zaman disebutkan bahwa doa sang laki-laki anonim itu mustahil terkabul lantaran makanan dan minuman serta pakaian yang melekat di badannya berasal dari sesuatu yang diharamkan.

Menepilah sejenak. Berkacalah. Tanyakan pada hatimu tentang semua yang engkau konsumsi. Jangan sampai semua itu justru menjauhkanmu dari Allah Ta’ala, memperlebar jarakmu dengan surga, dan mendekatkanmu dengan neraka sedekat-dekatnya.

Pun kepada para istri, telitilah pekerjaan dan harta suamimu. Jangan mau diberi makan dengan yang haram jika engkau tak kuat menahan siksa neraka. Sampaikan kepadanya bahwa kesukaran hidup jauh lebih mudah dibanding menahan perih dan pedihnya siksa neraka.

Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk puas dengan yang halal saja dan muntah dengan semua yang haram.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...