Agar Terlindung dari Kejahatan Manusia

Dalam menjalani hidup yang sementara ini, banyak sekali persimpangan jalan yang seringkali menggelincirkan kita sebagai seorang manusia yang lemah dan mudah melakukan kesalahan serta dosa. Apalagi dosa dan maksiat menjadi begitu menarik dan memesona sebab dibungkus dengan asesoris dan tampilan yang bagus, hingga menyilaukan pandangan mata, melenakkan hati, dan membius jiwa.

- Advertisement -

Di tahap ini, seorang hamba harus benar-benar jeli sebelum memutuskan untuk memilih persimpangan mana untuk dilalui. Sebab jika salah jalan, maka dampak buruknya, hanya dia yang akan menanggung, bukan orang lain. Pun, orang-orang yang dicintainya.

Dalam persimpangan-persimpangan jalan ini, amat sering diri ini dihadapkan pada dua hal yang sangat bertentangan, tapi dilematis.

Misalnya, di kantor, oleh atasan kita diberikan tugas yang mempertaruhkan kredibiltas; curang ditambah bonus, atau jujur dengan hadiah pemecatan. Sangat dilematis, sebab; ada Allah Ta’ala yang harus ditaati, dan rayuan setan akan kelemahan serta kesuraman hidup jika mendapatkan pemutusan hubungan kerja.

Tanpa berbelit-belit, jika satu masalah ini saja yang kita hadapi, dilema pasti menggejala. Di antara gejalanya, kita akan mendapati kebingungan dahsyat, pertentangan ruhani dengan akal bulus iblis, dan syubhat-syubhat yang senantiasa dibisikkan oleh setan dan bala tentaranya.

Maka yang kelak menjadi keputusan adalah sesuatu yang paling mendominasi di dalam dirinya. Sebab pemenang pertarungan bukan terletak pada siapa yang paling banyak membunuh, tetapi akan dikantongi oleh mereka yang paling lama bertahan.

Nah, jika kita seorang Muslim, ada pertaruhan yang lebih rumit. Apa tidak memalukan jika ada kalimat ini menjadi stempel bagi diri kita, “Muslim, rajin shalat, istri berjilbab syar’i, koleksi kitabnya banyak, rajin mengaji dan mendatangi ulama, kok berbuat curang hanya demi mendapatkan kelangsungan kerja?”

- Advertisement -

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Dengan tanpa maksud menggurui, sebab tak ada secuil pun harapan agar kita terjerumus dalam masalah nan pelik ini, ada baiknya kita mengingat baik-baik komitmen kemusliman kita agar senantiasa memegang tinggi ajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi.

“Siapa yang mencari ridha Allah, sedang manusia murka kepadanya,” demikian sabda Nabi oleh Imam at-Tirmidzi, “maka Allah akan melindunginya dari kejahatan manusia.”

Jika yang diambil adalah langkah berani menentang kebijakan bos yang merusak dan curang ini, maka yakinkan diri dan seluruh anggota keluarga; ada Allah Ta’ala yang pasti melindungi dan mutshil menzalimi Anda sekeluarga.

“Dan, siapa yang mencari ridha manusia, sedangkan Allah murka kepadanya,” demikian kelanjutan hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Qadha’i dan Ibnu Asakir secara hasan, “maka Allah memberikan urusan tersebut kepada manusia.”

Duhai, inilah penderitaan yang paling pelik; saat kita diserahkan kepada manusia, ketika Allah Ta’ala berlepas diri dari kita, padahal Dialah sebaik-baik pelindung dan pembela. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Allah Bersumpah dengan Kuda Perang di Surat Al Adiyat?

Di awal Surat Al Adiyat, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut kuda perang yang berlari kencang. Rangkaian sumpah ini ada di...

Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa....

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu

“Yah, kenapa sih mobil kita kecil? Sudah sesak nih,” kata seorang anak kepada ayahnya saat mereka berlima bepergian menuju sebuah tempat wisata.

Nama Istri-Istri dan Anak-Anak Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memiliki enam orang anak. Seluruhnya menjadi tokoh-tokoh di zamannya, dalam berbagai bidang yang berbeda.