Yang Dilakukan Abu Nawas Ketika Istrinya Digoda

0
69052

Memiliki istri adalah ujian. Jika istri kita cantik, maka letak ujiannya ada pada bagaimana menasihatinya agar senantiasa menjaga kecantikan itu dari fitnah. Jika tak bisa disebut cantik, maka tugas seorang suami adalah menasihatinya agar senantiasa bersabar dan mencintainya dengan tulus, bahwa Allah Ta’ala tak melihat fisik, melainkan apa yang ada dalam hati.

Abu Nawas, sebagaimana dikisahkan oleh KH Ma’ruf Islamuddin, memiliki istri yang amat cantik. Ia adalah kembang desa. Karenanya, berhasil mempersuntingnya adalah karunia sekaligus ujian. Karunia sebab tak semua lelaki sekelasnya mendapatkan istri secantik itu, dan ujian sebab ia harus menghadapi makar dan godaan laki-laki mata keranjang di kampungnya.

Benar saja, setelah menikah dengan Abu Nawas beberapa bulan, istrinya pulang dari pasar seraya menekuk wajah. Murung. Sang suami pun mendekatinya seraya bertanya, “Apa yang terjadi, Dinda? Mengapa wajahmu sekecut itu?”

Sang istri pun mengisahkan apa yang dialaminya. Katanya, di mana pun ia berada, selalu saja ada laki-laki yang menggodanya; saat pergi belanja ke pasar, silaturahim, ataupun keperluan di tempat lainnya. Mendengar penuturan istrinya, Abu Nawas tak menjawab. Selepas memberikan perhatian secukupnya, Abu Nawas segera undur diri.

Rupanya, Abu Nawas menemukan solusi untuk mengatasi laki-laki yang menggoda istrinya. Ia pun pergi ke pasar untuk membeli ubi-ubian dan bahan makanan lainnya. Usai berbelanja, Abu Nawas pun langsung mempersiapkan undangan sembari memasak hidangan. Ia mengundang semua laki-laki di kampungnya.

Sebab yang mengundang adalah Abu Nawas, dan di rumahnya ada sosok wanita yang cantik, laki-laki di kampungnya pun berbondong-bondong menghadiri undangan. Sesampainya di rumah Abu Nawas, dihidangkanlah makanan dari ubia-ubian yang telah diberi pewarna; merah, hitam, coklat, putih, dan sebagainya.

Tak perlu waktu lama, para tamu pun langsung menikmati hidangan dengan antusias. Mereka juga berhasrat menikmati makanan dengan warna yang berbeda. Ternyata, dari banyak warna itu, rasanya sama saja. Hingga, mereka saling berbisik menanyakan rasa hidangan yang dimakan.

Lama mereka berada di rumah itu, dan hidangan pun hampir habis, satu di antara mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada Abu Nawas. “Hai, Abu Nawas,” ucap orang itu, “kami sudah lama di sini. Namun, kau tak sampaikan apa pun.” Lanjutnya bertanya, “Jadi, apa tujuanmu mengumpulkan kami?”

Belum dijawab, ada orang lain yang menambahkan pertanyaan, “Terus, kenapa makanan yang kau hidangkan ini, rasaya sama semua, padahal warnanya berbeda?”

Lepas menghirup nafas sejenak, Abu Nawas pun angkat bicara. “Saudara-saudaraku, aku mengundang hanya agar kalian menikmati hidangan itu,” tuturnya menerangkan, “yang kalian makan itu, tak ubahnya istri-istri kita.” Saat Abu Nawas berhenti, sebagian orang yang sering menggoda istri Abu Nawas pun mulai memahami maksud diundangnya mereka.

“Memang,” lanjutnya, “bentuk fisiknya beda-beda.” Pungkasnya diiringi kepergian beberapa orang yang merasa tertipu, “Namun, mereka sama wanitanya. ‘Rasa’nya juga sama.” [Pirman]