Waspadailah Lima Racun Hati (Bagian 2)

0

Lanjutan dari Waspadailah Lima Racun Hati

Pergaulan Bebas

Sebagai makhluk sosial, mustahil bagi orang-orang beriman untuk tidak bergaul dengan sesamanya. Apalagi sebagai muslim yang mukmin sekaligus penyeru dakwah, bergaul kepada khalayak adalah suatu keharusan.

Dari bergaul itulah seorang dai bisa menyampaikan kebaikan dan mencegah dari keburukan. Tanpa itu, dakwah tak bisa menyentuh masyarakat dan hanya dinikmati seorang diri.

Dalam bergaul, ada dua konsekuensi yang pasti terjadi: mempengaruhi atau terpengaruh, mewarnai atau terwarnai. Karenanya, penting untuk membatasi diri dalam hal ini.

Dengan adanya pembatasan yang disesuaikan dengan kemampuan diri yang senantiasa ditingkatkan, maka seorang mukmin harus senantiasa melihat dan teliti kepada siapa ia harus bergaul. Apakah dengan orang shaleh agar ia semakin dekat dengan Allah? Atau dengan pelaku maksiat dan dosa sehinnga bisa menjerumuskannya ke dalam neraka.

Mewah dan Berlebihan dalam Makanan

Jika porsinya cukup, sesuai dengan kebutuhan, makanan adalah penopang tubuh agar semakin kuat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Namun, jika porsinya berlebihan, meskipun halal, maka makanan bisa menjadi penghalang serius bagi seseorang dalam mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Apalagi jika mengonsumsi makanan sudah menjadi obsesi yang berlebihan sehingga melalaikan seseorang dari ibadah yang wajib maupun sunnah.

Hal ini akan semakin parah jika yang dimakan adalah makanan haram. Sebab atas daging yang tumbuh dari makanan haram, baginya berhak atas siksa neraka.

Karena itu, Nabi amat memerhatikan perihal makanan ini. Beliau hanya makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Selain itu, beliau juga hanya memakan sesuatu yang baik dan halal hingga timbul darinya keberkahan. Nabi juga anjurkan umatnya untuk membagi lambung menjadi tiga saat makan: sepertiga untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minuman dan sepertiga sisanya untuk udara.

Kebanyakan Tidur

Di antara dampak buruk dari makanan yang berlebihan adalah timbulnya kemalasan dan banyaknya tidur. Sebab tidur adalah kematian kecil, maka saat itu seseorang tak bisa perbanyak melakukan ibadah. Bahkan amat sia-sia waktu yang Allah Ta’ala berikan jika ia tertidur dalam keadaan lalai dari mengingat Allah Ta’ala sebab tak jalankan sunnah menjelang menuju pembaringan istirahat.

Saat tidur yang dipenuhi kelalaian itu, pikiran dan hati seseorang akan lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan absennya ia dari proyek kebaikan. Padahal, dalam keadaan terjaga, waktu yang diberikan bisa dioptimalkan untuk mengikuti Majlis Ilmu, membaca buku, menulis kebaikan, silaturahim, diskusi mencerahkan pikir, olah raga penyehat raga, maupun dzikir penenang hati serta aktivitas-aktivitas bermanfaat lainnya.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari racun-racun hati ini. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaWaspadailah Lima Racun Hati
Berita berikutnyaKisah Kiyai yang Wafat saat Shalat Tahajud