Wahai Rasulullah, Aku Telah Berzina

1

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah sosok suami yang paling baik kepada istrinya, sahabat yang paling nyaman bagi sahabatnya, ayah teladan bagi semua anak-anaknya, Kepala Negara terbaik di sepanjang sejarah kepemimpinan dunia, dan sosok paling bijak dalam menyikapi kenakalan umatnya, serta julukan-julukan kebaikan lainnya.

Abdullah bin Buraidah mengisahkan riwayat dari ayahnya yang ketika itu sedang duduk santai bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Datanglah seorang wanta dari Bani Ghamid. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah melakukan zina. Dan, aku ingin mensucikan diri.”

Sang Nabi menjawab, “Kembalilah.”

Maka wanita itu pergi. Dan kembali dengan membawa kabar kehamilannya. “Ya Rasulullah,” ungkapnya kala itu, “sepertinya engkau hendak menolakku sebagaimana engkau menolak (pengakuan) Ma’iz bin Mali.” Lanjutnya sampaikan pengakuan, “Demi Allah, sesungguhnya diriku telah hamil (akibat dari perzinaan tempo hari).”

Atas pengakuan kedua itu, Nabi mengatakan, “Kembalilah hingga engkau melahirkan.”

Setelah melahirkan, wanita itu kembali dengan menggendong ‘buah’ zinanya. “Ya Rasulullah, aku sudah melahirkan.” ungkapnya.

“Pergilah,” perintah Nabi, “dan kembalilah setelah kau menyapihnya.”

Wanita itu pun pergi. Dan ketika kembali, ia menggendong anaknya dengan membawa sepotong roti sebagai bukti bahwa ia telah menyapihnya.

“Ya Nabi, aku telah menyapihnya,” aku wanita itu.

Atas perintah Nabi, anak itu pun diserahkan kepada salah satu kaum Muslimin. Lalu dibuatkan lubang setinggi dada untuk wanita itu, kemudian Nabi memerintahkan kaum Muslimin untuk melemparinya sebagai hukuman atas perbuatan zina yang dilakukannya.

Dalam riwayat yang dikutip oleh Rahmat Idris dalam Dua Jiwa Satu Surga ini, datanglah Khalid bin Walid yang melempar wanita itu sembari mengumpat.

“Tahanlah,” cegah sang Nabi, “janganlah engkau mengumpatinya. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya pemungut pajak memungut pajak tidak sesuai dengan syariat (Islam), niscaya pemungut pajak itu akan mendapatkan ampunan.”

Dalam riwayat yang agung ini, ada teladan amat bijak dari seorang Nabi yang mulia. Beliau menangguhkan hukuman hingga wanita itu melahirkan dan menyusui anaknya. Ada teladan kebijaksanaan, kasih sayang, pemaafan, dan sebagainya.

Riwayat ini terdapat dalam kitab Sunan Darimi nomor 2221. [Pirman]

Berita sebelumyaKisah Khalifah Harun ar-Rasyid dan Segelas Harta
Berita berikutnyaSebelum Nyawa Terputus, Aku Tetap Mencintainya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.