Wahai Muhammad, Apakah Kau Ingin Agar Kami Menyembahmu?

2
ilustrasi

Hari itu berkumpullah pendeta dari kaum Yahudi dan Nasrani dari penduduk Najran di kediaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika Nabi mengajak mereka masuk ke dalam Islam, tampillah Abu Rafi’ al-Qurazhi seraya berseru, “Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah ‘Isa bin Maryam?”

Belum juga Nabi menyampaikan jawabannya, ar-Rais menguatkan pertanyaan temannya itu dengan mengatakan, “Apakah itu yang kau kehendaki dari kami, wahai Muhammad” Lanjutnya memastikan, “Dan, apa untuk hal itu pula kau menyeru kami?”

Di antara yang melatarbelakangi pertanyaan tersebut adalah kebiasaan para pemuka Yahudi dan Nasrani yang berseru kepada pengikutnya, “Beribadahlah kepadaku di samping beribadah kepada Allah!”

Bentuk penyembahan kepada pemuka Yahudi dan Nasrani yang dilakukah oleh orang-orang kafir bermula dari dimanipulasinya ayat-ayat Allah Ta’ala. Para pemuka itu membuat hukum yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh-Nya.

Maka siapa yang menaati para pemuka itu, berarti ia telah melakukan penyembahan kepada sesama di samping penyembahan kepada Allah Ta’ala. Padahal, Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi

Atas pertanyaan dua pemuka Yahudi dan Nasrani di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan, “Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dari menyembah selain Allah Ta’ala atau menyuruh orang untuk menyembah kepada selain Allah Ta’ala.”

Pungkas Nabi menjelaskan sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Kastsir dalam Tafsirnya, “Bukan untuk itu Dia mengutusku, dan bukan itu pula yang Dia perintahkan kepadaku.”

Sebab dua pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir tersebut, Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya sebagai jawaban yang tak ada keraguan di dalamnya:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ (79) وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ (80)

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani; karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran ketika kamu sudah (menganut agama) Islam?” (Ali ‘Imran [3]: 79-80)

Berita sebelumyaEmpat ‘Bonus’ Bagi Orang yang Ingkar
Berita berikutnyaBukti Bahwa Muhammad adalah Nabi Terakhir

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.