Tujuh Puluh Ribu Orang yang Masuk Surga tanpa Hisab

7

Berbahagialah golongan ini, mereka diberi nikmat masuk surga tanpa hisab. Berbahagialah, sebab surga dipenuhi kenikmatan yang tak tertandingi. Siapakah mereka? Apakah amalan yang mereka kerjakan? Dan, semoga kita menjadi bagian dari mereka.

Dikisahkan oleh Syuraih bin ‘Ubaidah, bahwa Tsauban menderita sakit di kota Hims. Hingga datanglah seorang dari Kala’iyyin yang menjenguknya. Ditanyakan kepada penjenguk itu, “Apakah kau bisa menulis?”

Setelah diberitahukan bahwa tamu yang menjenguknya bisa menulis, maka Tsauban memintanya untuk menuliskan sepucuk surat yang berbunyi:

Kepada al-Amir ‘Abdullah bi Qarath

Dari Tsauban, (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam

Amma Ba’du

Seandainya Musa dan ‘Isa ‘alaihimas salaam memiliki seorang pembantu yang berada di dekatmu, tentulah engkau akan menjenguknya.

Surat tersebut ditujukan kepada ‘Abdullah bin Qarath al-Azdi yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Kota Hims. Setelah melipatnya, Tsauban bertanya seraya meminta tolong kepada tamu yang menjenguknya, “Apakah kau dapat mengirimkan surat ini kepadanya?” Dijawab singkat olehnya, “Ya.”

Setelah menerima dan membaca surat tersebut, sang Gubernur ‘Abdullah bin Qarath pun kaget. “Mengapa dia? Apakah terjadi sesuatu padanya?” tanyanya antusias. Ia pun bergegas mempersiapkan perbekalan untuk menjenguk Tsauban.

“Duduklah,” pinta Tsauban kepada Gubernur yang baru tiba di rumahnya itu. Lanjutnya menyampaikan sesuatu, “Agar aku dapat memberitahukan sebuah hadits yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Tsauban pun membacakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, “Akan masuk surga dari umatku (Muhammad) tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tiada azab bagi mereka. Setiap seribu orang disertai lagi tujuh puluh ribu orang.”

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhari dan Muslim juga disebutkan, tujuh puluh ribu orang itu masuk ke surga dalam keadaan bergandengan tangan sehingga orang pertama masuk ke dalam surga bersama dengan orang terakhir dan wajah mereka seperti bulan purnama.

Siapakah mereka? Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang yang tidak pernah meminta diruqyah seumur hidupnya. Sedangkan Imam Ibnu Katsir mengutip hadits ini ketika menafsirkan surat Ali ‘Imran [3] ayat 110; tentang umat terbaik yang diutus untuk memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, sedang mereka beriman kepada Allah Ta’ala. [Pirman]

Berita sebelumyaJika Bukan karena Amalan Ini, Allah akan Segerakan Azab-Nya
Berita berikutnyaSatu Kalimat yang Bisa ‘Memukul’ Pasukan Musuh Sejauh 32 Kilometer

7 KOMENTAR

    • Yg d maksud ruqyah d redaksi hadits tsb ruqyah sirkiyah yg biasa terjadi di kalangan masyarakat jahiliah….krn mengandung kesyirikan.wallahu a’lam

    • itu maksudnya orang minta diruqya bro, jika kita sendiri meruqyah itu kagak apa2 jadi ada peluang masuk kegolongngan tersebut

  1. Apa dosanya buat orang yang telah memberikan dan menyebarkan pemahaman namun ternyata pemahaman itu adalah semu dan menodai kesucian spiritual? Hal itu mungkin saja karena memang hal itu tidak pernah dibuktikan, karena hanya Tuhan yang tahu atau kita akan tahu kalau kita sudah meninggal? Bagaimana seseorang dapat kita yakini bahwa dia adalah sang suci penerus suara Tuhan sehingga dia berhak memberi pernyataan keyakinan sebagai sesuatu kebenaran mutlak? Apa dosanya untuk orang yang melakukan kebodohan karena meyakini suatu keyakinan yang (ternyata) salah, dan dia baru mengetahui kesalahannya setelah dia meninggal? Mohon pencerahannuntuk hamba yang bodoh ini…

  2. Agar d kaji secara komprehensif ttg maksud rukyah disini, u memberikan pemahaman yg benar ttg hadits ini, ketiadaan penjelasan yg memadai (hanya menurut penulis) ttg hal tsb membuat penyampaian hadits ini tidak bermakna, pdhl jika kita membandingkan angka 70 ribu dg diri, jumlah anggota keluarga atau warga sekampung kita akan optimis masuk di dalamnya, tp manakala jmlh tsb d bandingkan dg jmlh penduduk kota, negara atw penduduk dunia apalagi d hitung sejak manusia pertama Nabi Adam AS sampai jmlh penduduk terakhir nanti maka akan sebaliknya yaitu pesimis. Wallahualam a’lam bishshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.