Tiga Tuduhan Keji terhadap ‘Utsman bin ‘Affan dan Bantahannya

0
ilustrasi @medansatu

Apakah sebagai seorang dai pernah mendapatkan tuduhan keji dari musuh-musuh dakwah? Padahal memang, sebagai dai, kita memiliki banyak kekurangan di banyak bagian? Pasalnya, para Nabi dan sahabatnya yang mulia pun mendapatkan tuduhan. Bahkan, mereka dituduh dengan amat keji, dan tak berdasar sedikit pun.

Berikut di antara tuduhan yang dialamatkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan sebagaimana disebutkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim tulisan Imam Ibnu Katsir.

Diriwayatkan dari ‘Utsman bin Mauhib, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Umar. “Aku bersumpah atas kesucian Ka’bah, tidakkah engkau mengetahui bahwa ‘Utsman bin ‘Affan pernah melarikan diri pada perang Uhud?” Atas tanya lelaki itu, ‘Abdullah bin ‘Umar menjawab, “Ya.”

“Engkau juga mengetahui bahwa ‘Utsman bin ‘Affan tidak mengikuti Perang Badar dan tidak menyaksikannya?” tanya laki-laki itu yang kedua dengan nada menghakimi. Kemudian, jawab ‘Abdullah bin ‘Umar singkat, “Ya.”

Ketiga kalinya, lelaki itu menyampaikan tanya, “Bukankah engkau juga mengetahui bahwa ia tertinggal dan tidak menyaksikan Bai’atu Ridhwan?” Jawab anak ‘Umar bin Khaththab serupa dengan dua jawaban sebelumnya, “Ya.”

Lalu, ‘Abdullah bin ‘Umar memanggil laki-laki penanya itu untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Sebab, dalam nada tanyanya, terdapat tuduhan dan pendiskreditan terhadap salah satu sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dijamin masuk surga itu.

Terkait yang pertama, tutur ‘Abdullah bin ‘Umar, “Aku bersaksi bahwa Allah Ta’ala telah memaafkannya.”

“Waktu itu,” terang ‘Abdullah memberikan jawaban atas pertanyaan kedua, “’Utsman bin ‘Affan sedang merawat istrinya yang sedang sakit.” Karenanya, meski tidak turut serta dalam Perang Badar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau (‘Utsman bin ‘Affan) mendapatkan pahala dan bagian orang yang ikut Perang Badar.”

Sedangkan terkait Bai’atur Ridhwan, ‘Abdullah bin ‘Umar menerangkan, “Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ‘Utsman, niscaya beliau akan mengutusnya, menggantikan kedudukan ‘Utsman.” Maka ketika terjadi bai’at tersebut dan ‘Utsman sudah pergi ke Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengangkat tangan kanannya dan mengatakan, “Inilah ‘Utsman.”

Betapa mulianya para sahabat yang menyertai Nabi dalam dakwah menegakkan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi. Karenanya, tak layak adanya tuduhan buruk, apalagi yang hanya berdasarkan persangkaan belaka. Semoga kita bisa meneladani mereka dalam kebaikan dan takwa. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaKesempurnaan Nikmat Menurut Rasulullah
Berita berikutnyaDua Malaikat Pendamping Nabi dalam Perang Uhud dan Pakaiannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.