Tiga Hal yang Diberikan kepada Rasulullah di Sidratul Muntaha

1

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditemani malaikat Jibril pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina berlanjut dengan naik ke langit ke tujuh, Sidratul Muntaha dan Mustawa.

Di dalam peristiwa agung itu, kaum quraisy terbelah menjadi dua golongan. Ialah kelompok Abu Bakar ash-Shiddiq yang langsung memercayai perkataan Nabi tanpa tapi, dan kelompok Abu Lahab yang langsung berteriak lantang seraya mengatakan bahwa Muhammad adalah orang yang hilang akalnya.

Dalam peristiwa yang agung ini, sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, ada tiga hal yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Rasulullah yang mulia. Apakah ketiga hal itu?

‘Abdullah menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada di langit ketujuh. Di langit ketujuh terjadi (setidaknya) dua urusan penting: berakhir dan ditahanlah apa yang dibawa naik dari bumi, dan berakhir serta bertahan pula apa yang dibawa turun dari atasnya.

Setelah itu, ‘Abdullah pun menjelaskan makna firman-Nya, “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” (Qs. an-Najm [53]: 16)

Sesuatu yang meliputi Sidratul Muntaha, terang ‘Abdullah, “Adalah permadani dari emas.” Di Sidratul Muntaha itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menerima tiga hal sebagai berikut:

Shalat Lima Waktu

Inilah tiang agama yang menjadikan tegak atau robohnya agama. Disyariatkan di awal sebanyak lima puluh waktu dalam sehari, atas kemurahan Allah Ta’ala dikurangi menjadi lima waktu yang setara dengan shalat lima puluh waktu.

Shalat menduduki peringkat yang tinggi dalam Islam; hingga menjadi penentu selamat atau celakanya seorang hamba kelak di akhirat. Bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkannya, predikat kafir pun secara otomatis tersematkan untuknya.

Ayat Penutup al-Baqarah

Dua ayat yang mulia ini hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jika dibaca berturut-turut selama tiga hari di sebuah rumah, maka setan akan pergi dari dalamnya. Dua ayat ini juga amat mencukupi saat dibaca di malam hari.

Dalam ayat kedua ratus delapan puluh enam, saat seorang hamba membaca kalimat-kalimat doa di dalamnya, Allah Ta’ala langsung membalasnya dengan mengatakan, “Na’am (Ya)”.

Ampunan untuk yang Tidak Syirik

Hak Allah Ta’ala adalah diibadahi dan tidak disekutukan dengan apa pun selain-Nya. Dialah Allah Ta’ala Yang Mahaesa; yang bergantung kepada-Nya semua urusan; yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dialah yang tiada satu pun makhluk yang setara dengan-Nya. [Pirman]

Berita sebelumyaAyat yang Terasa Sangat Berat bagi Sahabat Nabi
Berita berikutnyaKisah Kedunguan ‘Orang Shaleh’

1 KOMENTAR

  1. syirik adalah dosa besar.. sedangkan kebanyakan orang indonesia masi percaya hal2 yg menyekutukan Allah.. percaya bila batu akik tertentu dpt memperlancar rejeki,, melakukan sesajen, dll.. mudah2an kita dilindungi dari bahaya syirik aminn..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.