Terpotong Satu Kaki, Anaknya Wafat, Orang Ini Malah Bersyukur

1

Satu di antara rahasia mengapa kalimat orang-orang terdahulu amat menggugah dan diingat oleh banyak generasi setelahnya adalah kualitas sosok yang menyampaikannya. Mereka mengatakan sesuatu yang sudah dijalani. Mereka mengatakan itu bukan untuk dikenang oleh orang lain, tapi pemaknaan atas apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya.

Mereka ikhlas dengan semua yang dialami, kemudian mengatakan kalimat yang merupakan hikmah. Satu di antaranya adalah Urwah bin Zubair. Beliau yang kala itu diuji dengan terpotongnya satu kaki dan wafatnya sang anak, justru bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Berikut kalimat-kalimat syukur yang amat menggetarkan jiwa-jiwa kerdil seperti kita dan banyak orang di zaman akhir ini.

Beliau memulai kalimatnya dengan mengatakan, “Ya Allah, bagimu segala puji.” Kemudian, “Jika Engkau mengambil sesuatu, maka Engkau telah memberikan banyak hal.”

Demikianlah sifat orang yang bersyukur. Ia tidak luput dengan satu kehilangan, tapi fokus pada banyak hal lain yang memang Allah Ta’ala berikan dalam kehidupannya. Bahkan jika dihitung, antara yang ditarik dengan yang diulurkan, jumlah yang diulurkan bisa berpuluh bahkan ratusan kali lebih banyak.

“Jika Engkau mengujiku dengan kesulitan,” lanjutnya tetap bertenaga, “Engkau telah merawat dan menyelamatkanku.”

Bukankah kesulitan yang Dia berikan selalu diiringi dengan dua kemudahan? Mungkinkah satu kesulitan sanggup mengalahkan dan melumpuhkan dua kemudahan? Bahkan di sepanjang kehidupan, jumlah kesulitan tak mungkin lebih banyak dari kemudahan yang Allah Ta’ala limpahkan kepada kita sebagai hamba-hamba-Nya.

“Engkau,” lanjutnya sampaikan fakta tak terbantahkan, “telah memberikan dua tangan dan dua kaki.” Dari keempat anggota gerak itu, “Sedangkan Engkau hanya mengambil satu di antaranya.”

Masya Allah… Orang yang bersyukur selalu mengundang decak kagum orang yang mau mengambil hikmah darinya. Bahkan ketika sebagian kita merasa kasihan dengan kehilangan anggota tubuh yang dialami, mereka justru berkata enteng, “Kenapa? Masih ada satu kaki dan dua tangan. Allah hanya mengambil satu kaki.”

Terkait wafatnya sang putra, Urwah pun mengatakan, “Engkau telah kurniakan tujuh orang putra. Dan,” lanjutnya amat tegar, “Engkau hanya mengambil satu orang di antaranya.”

Allahu akbar walillahil hamd. Jiwa-jiwa yang senantiasa bersyukur benar-benar langka. Keteladanan, ketegaran, kekuatan, semangat, dan pemaknaannya akan hidup harus senantiasa kita ingat. Bahkan, saat kita iba dengan wafatnya seorang anak, mereka santai berkata, “Allah Mahabaik. Dia berikan tujuh, dan hanya mengambil satu.”

Di akhir kalimatnya, ia menegaskan kepada sahabat-sahabatnya, “Aku rela kepada Rabbku.”

Ah, nampaknya kita harus malu, sebab amat jauh berbeda kualitas diri kita dengan Urwah dan sahabat-sahabatnya yang dimuliakan Allah Ta’ala. [Pirman]

Berita sebelumyaRajin Ibadah, tapi Mengapa Hidup Malang dan Penuh Kesulitan?
Berita berikutnyaDua Keburukan Jika Manusia Tidak Diuji

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.