Sahabat Nabi yang Amat Bersedih Saat Dilimpahi Kekayaan

0
5566
ilustrasi (Pinterest.com)

Ada kesalahan fatal yang terjadi di kalangan kaum Muslimin akhir zaman terkait menyikapi karunia Allah Ta’ala. Sebagian mereka mengagungkan kekayaan dan kepemilikan harta serta menganggapnya sebagai karunia yang memang layak dinikmati karena keimanan. Di waktu bersamaan, mereka menganggap hina orang-orang yang kurang berpunya bahkan menganggap kemiskinan sebagai akibat buruk lantaran kurangnya iman dan taqwa.

Padahal dahulu, ada begitu banyak sahabat Nabi yang justru menangis sedih saaat dikaruniai limpahan harta. Mereka menangis dan khawatir, jangan-jangan harta itu diberikan dengan kemurkaan-Nya.

Siang itu datanglah berbagai jenis emas dan perak, permata dan sutra, serta berbagai jenis kekayaan duniawi lainnya dari Qadisiah dan Madain. Bukannya tersenyum bahagia, sayyidina ‘Umar bin Khaththab justru menangis penuh kekhawatiran.

“Mengapa engkau menangis, wahai Amirul Mukminin? Padahal Allah Ta’ala telah memenangkan agama-Nya dan memberikan kebaikan kepada kaum Mukminin melalui kepemimpinanmu?” tanya sahabat mulia Abdurrahman bin ‘Auf yang masyhur kedermawanannya.

“Tidak, Demi Allah. Ini bukanlah kebaikan yang murni dan sejati.” Sanggah ‘Umar. “Jika ini merupakan puncak kebaikan, maka Abu Bakar lebih berhak mendapatkanya daripada aku.” jelas ayah Hafshah beberapa saat kemudian.

“Dan  jika ini merupakan puncak kebaikan, sudah pasti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam lebih berhak mendapatkannya-pada masanya-daripada masa kami.” terang ‘Umar sembari terus menangis, mengkhawatirkan capaiannya dalam memimpin kaum Muslimin.

Inilah Sayyidina ‘Umar bin Khaththab. Inilah laki-laki berjuluk al-Faruq, yang membedakan antara kebaikan dan keburukan. Inilah laki-laki yang ditakuti setan hingga mereka mengambil jalan lain selain yang dilalui olehnya.

Di akhir kisah, dengan tetap bersimbah air mata sedih dan khawatir, sayyidina ‘Umar bin Khaththab memuji seluruh pasukan dan panglima yang telah memenangkan jihad dan membawa harta rampasan secara utuh.

Ujarnya, “Betapa amanahnya pasukan ini. Dan betapa amanahnya pula panglimanya, Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib yang kala itu berada di dekat ‘Umar lantas menuturkan, “Semua ini lantaran engkau yang tidak menyimpan sebersit pun hasrat kekayaan dunia di hatimu. Jika ada secuil syahwat terhadap harta di hatimu, niscaya pasukan itu akan saling bunuh demi memperebutkan ghanimah ini.”

Betapa indahnya masa itu. Betapa indahnya zaman mereka. Betapa indahnya teladan yang kini sudah amat jarang ditapaki ini.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]