Sungguh, Engkau Termasuk Ahli Surga

0

Kalimat dalam judul tulisan ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam salah satu sabdanya. Kalimat ini merujuk pada satu nama yang syahid dalam Perang Badar. Siapakah sosok penghuni surga ini? Berikut kisahnya sebagaimana dituturkan dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

“Bangunlah,” hentak Nabi mengobarkan semangat sahabat-sahabatnya, “menuju surga yang seluas langit dan bumi.”

Mendengar seruan jihad nan melengking indah di telinga itu, sesosok lelaki gagah bertanya, “Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi?”

“Ya,” jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “benar.”

Menimpali perkataan sang junjungan manusia di semesta raya ini, sahabat itu berkata, “Bagus, bagus!”

Komandan jihad paling mulia ini pun bertanya, “Apa yang membuatmu berkata, ‘Bagus, bagus’”?

“Tidak, wahai Rasulullah.” Jelas sang sahabat, “Aku hanya berharap, semoga aku menjadi salah satu ahli surga.”

Kemudian, pemimpin Nabi dan Rasul ini mengatakan, “Sungguh, engkau termasuk ahli surga.”

Apakah kisah berakhir sampai di sini? Belum. Sang sahabat pun mengeluarkan beberapa butir kurma untuk dimakan. Ketika kurma yang dikeluarkan belum kelar dikonsumsi, ia membuang sebagiannya seraya berkata, “Jika aku masih memiliki waktu untuk menghabiskan kurma ini seluruhnya, sesungguhnya ini merupakan kehidupan yang panjang.” Pungkas sang sahabat, “Kehidupan panjang yang memisahkanku dengan surga!”

Ia pun bergegas memaju kendaraannya. Ia menerjang musuh dengan gagah berani. Diayunkanlah senjata jihadnya hingga membunuh musuh-musuh Islam yang terlaknat. Hingga, tutur Anas bin Malik, “Ia berperang hingga terbunuh.”

Sebab kecintaan dan hasratnya yang tinggi terhadap surga, Anas bin Malik pun mengakhiri riwayat ini dengan mengatakan, “Bagaimana ia akan bersabar untuk berlama-lama di dunia, sedang tempat kembalinya adalah surga?”

Sahabatku, mari azamkan diri untuk meneladani sahabat mulia dalam riwayat agung ini. Jika memang panggilan jihad belum berkumandang, mari bersegera mendatangi panggilan adzan yang berkumandang lima kali dalam sehari. Setidaknya, itu menjadi latihan jika jihad akhir zaman kembali dikumandangkan.

Bayangkan bahwa surga itu dekat dan penuh kenikmatan. Ia sama sekali tak sebanding dengan nikmat terbaik di dunia ini. Surga, kelak diwariskan. Surga, adalah hadiah dan balasan. Surga, tak bisa ditebus hanya dengan amal. Surga, hanya akan diberikan kepada siapa yang dirahmati Allah Ta’ala.

Sebagaimana sosok ‘Umair bin Hamam al-Anshari yang disebut dalam riwayat mulia ini, semoga kita termasuk dalam makna, “Sunguh, engkau termasuk ahli surga.” Aamiin ya Rabb. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaSahabat yang Membeli Surga Dua Kali dari Nabi
Berita berikutnyaTernyata, Setan Pun Menikah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.