Sufi yang Menyesatkan

0
1927
sumber gambar: learni.st

Tasawuf merupakan salah satu cabang ilmu dalam Islam. Guru di bidang tasawuf kerap disebut Sufi. Sufi yang benar ialah mereka yang mengamalkan Al-Qur’an dan beramal dengan teladan Nabi, para sahabat, dan pengikut-pengikutnya.

Faktanya, tak semua sufi layak diikuti. Sebagiannya hanya mengaku-ngaku. Mereka bahkan tak layak untuk diikuti karena menyesatkan.

Imam Ibnul Jauzi menuturkan sekelompok orang di zamannya yang mengaku sebagai sufi dan memiliki pengikut. Mereka tidak makan selama bertahun-tahun karena alasan menghindarkan diri dari sesuatu yang dikehendaki oleh nafsunya.

“Saya tidak makan. Karena hawa nafsuku menginginkannya. Sejak beberapa tahun yang lalu, saya tak pernah menuruti keinginan hawa nafsuku!” demikian kata mereka.

Sebagian lainnya memilih untuk menyendiri, mengasing dari masyarakat, menolak menikah, dan penolakan-penolakan lain yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Bukankah ini tindakan berlebihan yang tak memiliki landasan dalam Al-Qur’an dan Sunnah?

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai maha guru spiritual merupakan sosok yang menganjurkan makan untuk menguatkan tubuh dalam beribadah. Beliau menganjurkan umatnya untuk makan bergizi seperti daging kambing, susu murni, kurma dengan kualitas terbaik, dan seterusnya.

Beliau juga menikah dengan banyak wanita sebagaimana disyariatkan Allah Ta’ala kepadanya. Istri beliau shalihah, perhiasan dunia, dan memiliki banyak kelebihan secara fisik dan takaran-takaran manusiawi lainnya.

Sufi menyesatkan lainnya juga menolak makanan-makanan tertentu. Misalnya seorang sufi yang dikisahkan oleh tamunya Imam Hasan Al-Bashri. Sufi itu menolak puding karena khawatir tak bisa mensyukurinya.

Kepadanya, Imam Hasan Al-Bashri menyampaikan peringatan yang tegas, “Apakah tetanggamu itu bisa menunaikan kewajiban mensyukuri air?”

Soalan syukur, sungguh tak bisa dilihat hanya dari kadar enaknya dari kaca mata duniawi. Makanan yang enak bukan berarti lebih disyukuri dari makanan yang kurang enak. Karena yang memberi nikmat, yang menganugerahkan rasa enak atau tidak hanyalah Allah Ta’ala.

Puding memang lebih nikmat dari air, tetapi lebih besar mana fungsinya? Jika banyak orang bisa hidup tanpa puding, maka tak ada satu pun orang yang bisa hidup tanpa air karena Allah Ta’ala menjadikan air sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia dalam mengarungi kehidupan.

Waspadalah. Belajar dan mengamalkan tasawuf jangan sampai salah guru. Karena sejatinya, belajar tasawuf harus dikombinasikan dengan keilmuan lain sehingga menjadi manusia paripurna yang meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. [Kisahikmah]