Suamiku (bukan) Ikhwan

0
24028
ilustrasi: samiku (bukan) ikhwan @lppi-makassar
ilustrasi: samiku (bukan) ikhwan @lppi-makassar
ilustrasi: suamiku (bukan) ikhwan @lppi-makassar

Aku tak mengerti gejala ini. Aku mengalaminya dalam beberapa tahun terakhir kehidupanku. Hantaman gelombang membadai kehidupankulah, kukira, yang menjadi pemicunya.

Mulanya, kubangun idealisme setinggi langit, seluas hamparan sahara, semenjulang gunung dan sedalam samudera. Kurawat ia, hingga sudah kurencanakan semuanya dengan detail.

Ketika bersekolah di tingkat menengah, saat aku menaruh hati pada seorang laki-laki aktivis yang kurus fisik, miskin harta tapi kaya ilmu dan amal itu, aku memasang badan untuk melawan keuargaku. Aku sudah merawat cinta itu, dan menyiapkan strategi akhir: kabur, asal menikah secara ideologis dengan ia yang kusangka bisa menjadi imam yang baik untuk diri dan anak-anakku, kelak.

“Apa yang akan kaudapat dari lelaki kurus kering itu, hah?” Hardik kakakku suatu ketika. Kala itu, ia dan teman-temannya sesama aktivis berkunjung ke rumahku. Silaturahim, sekaligus ada urusan kerja kelompok.

“Memangnya, kamu mau makan cinta?” Lanjutnya, sampai-sampai aku malu ketika mendengar umpatan-celaannya, “Nikahlah dengan lelaki yang kaya. Hidup itu butuh biaya. Tak cukup dengan shalih atau cinta.” Ia makin mengebu-gebu, tak kalah semangatnya dengan komentator pertandingan sepak bola di kampungku saban acara Tujuhbelas Agustusan.

Belum puas, ia melanjutkan, “Aku tuh bisa menebak, dari kurusnya badan dan bentuk rumahnya yang hampir roboh itu, paling-paling dia akan mengajakmu pada kesengsaraan serupa, atau lebih sengsara lagi!” Bahkan, bibiku ikut meluncurkan umpatannya, ketika ia dan teman-temannya sudah berpulang menuju kediamannya masing-masing.

Aku menerawang, membayang masa lalu, mencoba merangkai lagi memori silam. Suamiku yang sekarang bukanlah “ikhwan”. Tentu, bukan pula akhwat. Sebab pernikahan sesama jenis dilarang oleh agama. Suamiku itu, hanyalah seorang lelaki.

Pernikahan kami juga tak syar’i, sebab idealismeku tak cukup kuat untuk menentang arus adat yang digemborperjuangkan seluruh anggota keluargaku.

Ketika ia, lelaki yang kelak menjadi suamiku, datang membawa mobil terbarunya, di awal pernikahan, seorang anggota keluargaku membisiki, perih-pedih kurasa, “Coba kalau kamu menikah dengan teman sekolahmu yang dulu itu,” ujarnya menyindir temanku yang kurus kering fisiknya, “kau pasti akan sengsara,” lanjutnya bertutur, sementara aku hanya tersenyum getir.

“Sekarang, kaudapat yang lebih baik,” ungkapnya makin bersemangat, “tetangga saling mengagumi: suaminya gagah, tampan dan kaya,”katanya menirukan ekspresi tetangga.

Aku tak begitu tahu. Idealisme yang kubangun-raksasakan juga entah kemana raibnya. Aku hanya berupaya menerima fakta, sembari mengingat baik-baik komentar terakhir temanku, sesaat sebelum akad, “Berbaiksangkalah kepada Allah. Siapa tahu, dia bisa mendapat hidayah dari tanganmu.” Lanjut sahabat seperjuanganku itu, “Yakinkan diri, bahwa cinta bisa mengubah segalanya. Apalagi, kau masih mempunyai Allah.” Ungkapnya bersemangat. Pungkasnya, “Toh, suamimu tak sebejat Fir’aun.”

Maka, pikirku bergemuruh penuh tanya dalam diri, “Jika dia tak sebejat Fir’aun, apakah aku tak perlu seshalihah ‘Asiyah istri Fir’aun?” Entahlah. []