Dijanjikan Kasur dan Selimut dari Api, Tapi Jumlah Golongan Ini Makin Banyak

0
10143
sumber gambar: bilgiidunyamenler.blogspot.com

Kepada dua golongan ini, Allah Ta’ala tidak akan membukakan pintu langit. Amal dan ruhnya tertolak. Tidak diizinkan naik ke tempat yang suci. Mereka juga berhak mendapatkan fasilitas kasur dan selimut. Bukan dari busa yang empuk, tapi kasur dan selimut yang terbuat dari api.

Mereka diharamkan masuk ke dalam surga sampai unta masuk ke dalam lubang jarum!

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”

Dua golongan ini adalah mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah Ta’ala dan bersikap sombong. Ialah menolak kebenaran lantaran bisikan nafsu jahatnya.

“Pintu-pintu langit tidak dibuka untuk amal dan ruh mereka.” tutur Imam Ibnu Juraij sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.

Lantaran amal dan ruhnya tidak diterima, mereka pun diharamkan masuk ke dalam surga. Allah Ta’ala menggunakan perumpamaan yang sangat indah dengan unta yang mustahil masuk ke dalam lubang jarum.

Bukankah ini merupakan kemustahilan yang amat mustahil? Bukankah Allah Ta’ala Mahabenar perkataan dan perumpamaannya?

Bukan hanya itu, masih ada bonus bagi dua golongan ini.

“Mereka memiliki tikar tidur dari neraka”

Inilah alas tidurnya. Inilah tikarnya. Inilah kasurnya. Boro-boro empuk, bahan dasarnya saja api. Bukan sekadar api, melainkan api neraka dengan panas ribuan hinga jutaan kali panas di dunia.

“Dan di atas mereka ada selimut.”

Bukan hanya panas di bawah, di alas. Tapi juga panas di atas. Bahkan jika dipahami sebagai makna selimut, ia bukan hanya di atas, melainkan melingkupi, menutupi dan membungkus di sekujur tubuh.

Yang demikian ini merupakan penjelasan Imam Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, Imam adh-Dhahhak bin Muzahim, dan Imam as-Suddi.

“Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zhalim.” (Qs. al-A’raf 7]: 41)

Itulah upahnya. Itulah buahnya. Itulah harganya. Itulah hadiahnya. Siapa saja yang mendustakan dan sombong menyikapi ayat-ayat Allah Ta’ala, mereka itulah kelompok yang zhalim.

Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

*Pesan terjemah Tafsir Ibnu Katsir di 085691479667