Siapakah Nama Istri Iblis?

1

Imam asy-Sya’bi sedang berjalan bersama istrinya. Keduanya terlihat sumringah sembari bercengkerama. Tak lama kemudian, datanglah seseorang menghampiri keduanya. Sebagai seorang alim, imam yang faqih dan banyak menghabiskan masa kecilnya di Madinah ini sudah terbiasa mendapati pertanyaan dari kaum Muslimin.

Akan tetapi, laki-laki yang tak disebut namanya ini menyampaikan sebuah pertanyaan yang tak biasa. Katanya, “Wahai Imam, siapakah nama istri iblis?”

Andai bukan karena kedalaman pemahan, jernihnya akal, bersihnya ruhani, dan mulianya akhlak, bisa saja beliau menyampaikan jawaban kemarahan. Apalagi, selain kesan aneh dari pertanyaan tersebut, si penanya terlihat seperti menguji kemampuan sosok imam yang sempat bertemu dan berguru kepada 50-an sahabat utama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Karenanya, kepada laki-laki penanya ini, Imam asy-Sya’bi sampaikan jawaban amat jenaka, tapi tak bisa disela. Kata beliau sembari menyiramkan senyum, “Wah, kami tidak diundang untuk menghadiri walimahnya.”

Sama seperti kita, barangkali penanya mengalami kesan serupa bahwa Sang Imam akan menyampaikan jawaban yang sama sekali tidak pernah kita pikirkan, tapi ‘mematikan’.

Bukan hanya sekali, beliau yang berguru langsung dan amat mengidolakan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhuma ini, memang terkenal jenaka intelektual.

Ceritanya, ada seseorang yang menyampaikan pertanyaan, “Jika saya mandi di sungai, ke manakah harus menghadap? Bolehkah menghadap atau membelakangi kiblat? Atau ke arah mana?” Lanjut si penanya, “Nah, jika saya tidak mengetahui arah kiblat, ke arah mana sebaiknya menghadap saat mandi di sungai?”

Dengan tanpa menelisik maksud si penanya, benar-benar ingin tahu atau hanya berusaha menguji kemampuan Sang Imam, jawaban seperti apakah yang akan disampaikan oleh Sang Imam kepadanya?

“Hadapkanlah pandangan ke arah pakaianmu.” Pungkasnya menyampaikan alasan, “Jangan sampai pakaian itu diambil orang atau hanyut bersama arus air.”

Cerdas dan tak terbantahkan. Itulah pribadi shalih yang lisan dan perbuatannya terjaga. Mereka memiliki kedalaman pemahaman sehingga mampu berpikir cepat, menelaah secara jernih, dan mentransformasikannya ke dalam santunnya akhlak kepada sesama.

Kepada Imam asy-Sya’bi dan generasi beliaulah seharusnya kita belajar tentang akhlak yang santun kepada sesama. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKetika ‘Ali bin Abi Thalib Minum Sambil Berdiri
Berita berikutnyaCara Berlari dari Hawa Nafsu

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.