Seorang Ibu yang Mendonorkan Telinga untuk Anaknya

0
ilustrasi kasih sayang ibu © lelabi
ilustrasi kasih sayang ibu © lelabi
ilustrasi kasih sayang ibu © lelabi

Kisah pengorbanan ibu untuk anaknya tak pernah kering untuk dibincang. Meski terkesan berulang, selalu ada hikmah yang bisa dipetik darinya. Barangkali itulah yang menjadi tafsir atas ketulusan, cinta dan kasih sayang. Ibu adalah sumber dari semua itu di bumi ini.

“Sus,” ibu itu berkata kepada perawat yang berdiri di dekat tempat tidur bayi yang baru dilahirkannya, “tolong dekatkan anakku. Aku ingin menggendongnya,” pintanya lembut. Sebab proses melahirkan yang setara dengan jihad itu, sang ibu belum mampu untuk banyak bergerak, meski untuk sekedar bangun dari tempat tidur dan menghampiri bayinya yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Saat sang anak nyaman dalam dekapan, ibu itu terhenyak. Tanpa kata. Dilihatnya saksama satu persatu borgan tubuh sang anak hingga bagian telinganya. Seisi ruangan hanya diam sembari memperhatikan ekspresi ibu itu. Meski sempat terlintas getir, nyatanya sang ibu langsung tersenyum tatkala melihat wajah dan tubuh anaknya secara keseluruhan.

Rupanya, sang anak terlahir tanpa telinga.

Beruntung, ibu dan keluarganya membesarkan anak itu dengan kasih sayang tak bertepi. Dengan susah payah, diberilah sang anak semangat dalam menjalani hidup, termasuk kiat-kiat agar tak minder tatkala ada orang lain yang mengejeknya. Lantaran kasih sayang itulah, anak ini berkembang dengan amat baik dalam banyak bidang.

Pernah suatu ketika, saat sang anak sudah tumbuh dewasa dan menggenggam sukses, ia berujar kepada ayah dan ibunya agar dicarikan donor telinga. Padahal, jauh sebelum itu, kedua orangtuanya itu sudah mengupayakan hal serupa. Meskipun belum ada satu pun orang yang bersedia memberikan telinganya dan menukarnya dengan imbalan sebanyak apa pun.

Hingga akhirnya, tatkala sang anak telah berkeluarga di luar kota, sang ayah memberitahukan bahwa ada orang baik hati yang bersedia mendonorkan telinganya. Sempat ditanya oleh sang anak siapa orang baik itu, ayah nan lembut hatinya hanya menjawab lirih, “Beliau tidak mau diketahui identitasnya sampai waktu tertentu.”

Operasi pun berjalan lancar. Sang anak sumringah melihat dirinya yang terlihat lebih ‘sempurna’ di banding sebelumnya. Selepas itu, sang anak kembali tenggelam dalam kesibukan aktivitasnya bersama anak-istri dan bisnisnya.
Hingga suatu ketika, ia kembali mendesak sang ayah untuk memberitahukan siapa orang bijak yang telah memberikan telinga untuknya. Kembali sang ayah menukasi, “Belum waktunya kau mengetahuinya.” Padahal, sang anak hanya ingin mengucapkan terima kasih dan memberinya hadiah atas pengorbanannya.

Berbilang bulan dan tahun kemudian, keluarga itu dirundung duka. Sang ibu wafat. Mendadak. Tapi begitulah kematian. Ia datang tanpa permisi dan pergi sesuka hatinya. Sang anak yang sebenarnya baru bersilaturahim ke rumah orangtuanya itu sempat kaget juga. Sebab, tatkala kunjungannnya beberapa hari sebelum kematian itu, sang ibu masih sehat dan afiat.

Tibalah waktunya bagi anak dan sang ayah untuk masuk ke dalam bilik jenazah. Memandikan. Tatkala air mulai membasahi kepala jenazah ibunya, terburailah rambut panjangnya. Ketika itu, sang anak terhenyak. Sebab, telinga sang ibu tiada.

Tanpa perlu dijelaskan, sang anak langsung memahami apa yang terjadi. Sedihnya semakin menjadi, lemas seketika. Bahkan ia langsung terduduk melihat fakta itu. Ada campuran rasa yang tak kuasa tuk dilukiskan dengan apa pun.
Sedih, iya. Haru, pasti. Kagum, apalagi. Tapi, mengapa harus telinga ibu? Demikian tanya sang anak yang tak terjawab.

Ia baru menyadarinya, sebab selama ini, saat ia berada di luar kota, sang ibu sudah lama memanjangkan rambutnya sehingga menutupi bagian telinganya. Dan, tatkaa itu, meski tanpa telinga, sang ibu tetap terlihat cantik dan amat memesona dalam pandangan anaknya.

Ah, jangankan telinga. Bahkan jika nyawa bisa didonorkan, maka sang ibu pasti sangup memberikannya untuk sang anak ketika itu benar-benar diharuskan dan tak ada pilihan lain. [Pirman]

Berita sebelumyaIni Alasan Imam Syafi’i Tidak Shalat Tahajud
Berita berikutnyaSebelum Tahu Hadits Ini, Ibnu Abbas Tidak Pernah Shalat Dhuha