Semoga Dia Dicelakakan Allah

1
ilustrasi @bersamadakwah.net

Jika kita termasuk yang rajin beramal, berhentilah sejenak untuk menata hati. Agar hati tetap ikhlas, tulus, dan hanya berhajat kepada-Nya. Niat yang tulus juga memudahkan kita untuk mendeteksi penyakit-penyakit hati yang sangat mungkin menjadi penumpang gelap dalam gerbong amal yang kita jalani.

Penumpang gelap dalam gerbong amal inilah yang dinamakan riya’, melakukan ibadah agar mendapatkan pujian dari manusia yang melihatnya. Ia bagaikan semut hitam kecil yang merayap di malam hari di tengah sahara pada sebuah batu besar. Karenanya, ia tersembunyi, dan sangat sukar untuk dihindari kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala.

Imam Hasan al-Bashri sebagaimana dikutip Mas Udik Abdullah dalam Bagai Mengukir di Atas Air mengisahkan seorang lelaki yang memiliki target amal harian. Sayangnya, ia berniat agar dipuji oleh sesama dan tercatat sebagai sosok ahli ibadah.

Maka sebagai salah satu cara yang ditempuh; ia pergi ke masjid jauh lebih awal dari orang lain, memanfaatkan waktu dalam dzikir, membaca al-Qur’an agar dilihat, dan selalu pulang paling akhir kemudian melewati kerumunan orang-orang yang tengah bersantai. Tujuannya satu, agar orang-orang menyaksikan kebaikan yang ia lakukan.

Anehnya, meski tak mengetahui isi hati lelaki pelaku amal shaleh ini, orang-orang yang diharapkan melayangkan pujian kepadanya justru melontarkan kalimat sebaliknya. Saat si lelaki lewat di dekatnya, mereka mengatakan, “Mudah-mudahan dia dicelakakan oleh Allah Ta’ala.”

Beruntungnya, lelaki ini segera menyadari kekeliruan diri dan bisikan setan yang merasuk ke dalam hatinya. Sekitar tujuh bulan setelah amal kepura-puraan yang dilakukannya, ia menyesal dan menginsafi semua penumpang gelap yang tak sengaja masuk ke dalam gerbong amal shaleh yang dilakukannya itu.

“Betapa sia-sianya amalku selama ini,” ujarnya dalam hati. Lanjutnya sampaikan komitmen terhadap dirinya, “Sekarang, lebih baik aku beramal karena Allah Ta’ala semata.”

Laki-laki itu pun tetap menjalankan kebiasannya tempo hari. Pergi paling awal ke masjid, dan senantiasa pulang di akhir waktu. Terus seperti itu, setiap hari, dengan tanpa perubahan sedikit pun.

Tak lama setelah itu, ketika ia melewati orang-orang yang dulu mendoakan kecelakaan baginya, mereka mengatakan yang sebaliknya, “Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, sebab ia telah melakukan banyak kebaikan.”

Semoga Allah Ta’ala meluruskan niat atas setiap amal yang kita lakukan. [Pirman]

Berita sebelumyaLakukan Ini Hingga Lelah, Dosa Anda akan Diampuni
Berita berikutnyaKiat Wujudkan Keinginan menurut Ibnu Athailah as-Sakandari

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.