15 Hari yang Membuat Nabi Galau

0
3354
Sebab Turunnya Surat Al-Kahfi
ilustrasi @Endoneshia

Sepulangnya dari Ahli Taurat, dua utusan kafir Quraisy ini gegas mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keduanya amat bungah ketika mengingat pesan Ahli Taurat.

“Jika Muhammad benar-benar seorang Utusan Allah, dia akan mengetahui tiga perkara ini. Dan jika ia tak mampu menerangkannya, berbuatlah kepadanya sesuka kalian.” ujar Ahli Taurat.

Tiga perkara rahasia yang kemudian dijadikan senjata oleh kafir Quraisy untuk menyerang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia ialah kisah tujuh pemuda beriman, seseorang yang melakukan perjalanan dari arah terbit ke arah terbenamnya matahari, dan rahasia yang berkaitan dengan ruh.

Lepas utusan kafir Quraisy itu menyampaikan tiga persoalan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab singkat dan tegas, “Esok aku akan memberitahukannya kepada kalian.”

Kafir Quraisy itu pulang. Antara harap dan cemas. Berharap agar esok Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tak kuasa menerangkan serta cemas jika Muhammad mampu menjelaskannya dengan gamblang.

Waktu berlalu, mentari baru terbit, tepat di esok harinya. Kafir Quraisy sudah berbaris, menunggu kedatangan dan penjelasan Muhammad. Mereka bersiaga untuk mengetahui jawabannya. Meskipun jika Nabi Muhammad berhasil menerangkannya ketika itu juga, kebanyakan mereka tetaplah mengingkari Allah Ta’ala dan Nabi-Nya.

Taqdirnya, Malaikat Jibril yang mulia belum datang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunggunya. Tapi Jibril tak kunjung tiba. Wahyu terputus selama setengah bulan, lima belas hari.

Betapa galaunya sang Nabi. Galau karena iman. Sebab ia tak mau mengarang jawaban. Ia hanya seorang penyampai. Sehingga kejujurannya mendorong dirinya untuk menahan diri dengan tidak menyampaikan jawaban yang bersifat kisah sesuai versinya.

Namun orang Quraisy seperti menemukan celah dan sasaran yang sangat empuk. Ketidaktepatan Nabi dalam soalan waktu merupakan cacat sempurna dalam penilaian orang-orang yang menolak beriman itu.

Caci-maki, hinaan, bullyan, dan semua lontaran kebencian kian santer dialamatkan kepada Nabi yang mulia. Predikat jujur yang selama ini tersemat indah dan kuat di dalam diri Nabi pun kian diguncang. Perlahan.

Hingga di hari keenam belas, Jibril kembali mendatangi Nabi yang mulia untuk menyampaikan Kalam dari Tuhan semesta alam.

Jibril hadir membawa jawaban atas tiga persoalan yang diajukan oleh kafir Quraisy kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tentang tujuh pemuda beriman yang masyhur dengan julukan Ashhabul Kahfi dan lelaki pengelana dari arah terbit ke arah terbenamnya mentari-Zulkarnain-disebutkan dalam Surat Al-Kahfi. Sedangkan rahasia ruh disajikan dalam Surat Al-Isra’ ayat 58.

Kisah inilah yang melatarbelakangi atau menjadi sebab turunnya surat Al-Kahfi. Surat ke-18 yang 71 ayatnya bertutur tentang kisah-kisah penggerak jiwa. [Kisahikmah]