Meski Buruk Rupa, Anak Ini Sangat Disayangi Nabi

0
ilustrasi @banjarmasin.tribunnews.com

Anak kecil ini berasal dari pedalaman. Suatu hari, ia datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dengan membawa hadiah khas daerahnya. Nabi menerimanya dengan cinta yang tumpah. Kemudian memberikan balasan terbaik saat si kecil hendak pulang ke rumahnya.

Mesranya Nabi kepada anak ini.

Dalam kesempatan lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengunjunginya. Manusia paling mulia sepanjang zaman ini langsung menuju pasar. Sebab, si kecil terbiasa berjualan di pasar.

Nabi Shallallahu ‘Alaih Wa sallam mendatangi si kecil dari arah belakang, kemudian memeluknya. Memberikan kejutan sekaligus pertanda sayang, juga candaan khas orang tua kepada anaknya. Mengagetkan.

Tidak mengetahui siapa yang memeluknya dari belakang, si kecil yang disebutkan oleh Dr ‘Ali Hasyimi dalam Membentuk Kepribadian Muslim Ideal menurut al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai anak yang buruk rupa ini meronta. “Siapa ini? Lepaskan aku!” teriaknya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak melepaskan dekapannya. Beliau hanya merenggangkan agar si kecil bisa menoleh ke arah belakang. Lepas mengetahui siapa yang mendekapnya penuh kejutan, si kecil justru menempelkan punggungnya lebih kuat ke dada Nabi.

“Siapa yang mau membeli budak ini?” ujar Nabi. Agak keras. Bernada canda.

“Wahai Rasulullah,” jawab si kecil, “hargaku pasti sangat murah!”

“Tapi,” tukas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “di sisi Allah Ta’ala, engkau bukanlah seseorang yang dihargai murah.”

Bukan, Nak. Engkau bukan murahan. Manusia bisa saja melihatmu hina lantaran rupa yang kurang sempurna dalam pandangan mereka. Tapi, Allah Ta’ala tak pernah menilai seseorang murah hanya karena ukuran fisik.

Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tapi di sisi Allah Ta’ala, hargamu sangat mahal.”

***

Inilah di antara akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin. Entah lupa, meremehkan, atau tidak tahu. Bahkan, tak sedikit orang yang berlaku sebaliknya; menyelisihi NabI Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam riwayat ini.

Bukankah sebagian kita amat tidak mampu menunjukkan rasa sayang kepada anak-anak? Bahkan saat mereka bercanda di masjid, sebagian kita langsung memarahi mereka tanpa muatan hikmah di dalamnya.

Pun dalam keseharian. Kita terlalu kasar. Bahkan, tersenyum kepada anak-anak terasa amat berat. Apalagi bercanda!

Maka berbahagialah si kecil Zahir. Dia diberi rezeki mendapatkan kemuliaan dari manusia paling mulia, meski ia buruk rupa.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaOm, Dosa Warnanya Apa Sih?
Berita berikutnyaKetika Nabi Bicara dengan Mayat