Satu Kalimat yang Bisa ‘Memukul’ Pasukan Musuh Sejauh 32 Kilometer

0

Dalam setiap kejadian yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,sahabat, dan orang shaleh setelahnya selalu ada hikmah bagi kaum muslimin. Di dalamnya senantiasa terkandung pelajaran yang amat berharga. Pelajaran nan mulia nilainya itu, bisa juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-sehari dalam menghadapi ujian yang Allah Ta’ala berikan.

Disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, bahwa pasukan kaum muslimin terpojok dalam Perang Yarmuk. Di dalam peperangan tersebut, yang diangkat sebagai panglima adalah Abu ‘Ubaidah. Sedangkan yang mengangkatnya adalah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan di dalam pasukan yang terpojok itu terdapat ‘Iyadh al-Asy’ari. Ia pun mengirmkan sepucuk surat untuk meminta bantuan kepada Panglima Abu ‘Ubaidah. Dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir terkait isi surat itu, “Kematian telah menghantui kami. Dan, kami meminta bantuan kepadamu.”

Tak lama setelah itu, pasukan kaum muslimin pun mendapat surat balasan dari Panglima Abu ‘Ubaidah. Dibukalah surat tersebut, dan dibaca dengan teliti setiap kalimat di dalamnya.

Kata sang Panglima menulis:

Surat kalian yang meminta bantuan kepadaku telah kuterima. Dan, aku ingin menunjukkan siapa yang lebih besar pertolongannya dan memiliki pasukan tentara yang tangguh; itulah Allah Ta’ala.

Mohonlah pertongan kepada-Nya. Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditolongnya pada waktu Perang Badar. Padahal, jumlah pasukan beliau lebih sedikit dari kalian.

Jika suratku telah sampai di tangan kalian, maka seranglah mereka dan janganlah kembali kepadaku.

Mari berhenti sesaat. Jika kita bagian dari pasukan yang terpojok itu, apa yang ada di benak kita? Ngedumel tidak ikhlas? Marah-marah dengan mengatakan, “Dimintai bantuan kok malah ceramah”? Atau kalimat tak pantas lainnya?

Mahasuci Allah Ta’ala, pasukan kaum muslimin yang terpojok itu mendapatkan aliran semangat yang amat dahsyat untuk melanjutkan jihad. Satu kalimat yang amat membekas dalam surat tersebut adalah, “Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala.”

Adakah yang lebih baik pertolongannya dari Allah Ta’ala? Adakah yang lebih agung pembelaannya dari Allah ‘Azza wa Jalla? Dialah sebaik-baik Penolong dan Pembela.

Lantas, apa dampak dari surat tersebut bagi kaum muslimin yang berjihad itu?

“Maka kami pun segera memerangi mereka hingga berhasil memukul mundur pasukan musuh sejauh empat farsakh. Dan, kami pun berhasil mendapatkan harta rampasan perang.”

Satu farsakh senilai dengan delapan kilometer. Maka hanya dengan memahami makna perkataan “Minta tolonglah kepada Allah”, kaum muslimin bisa memukul mundur pasukan musuh sejauh tiga puluh dua kilometer. Allahu Akbar! [Pirman]

Berita sebelumyaTujuh Puluh Ribu Orang yang Masuk Surga tanpa Hisab
Berita berikutnyaSiapakah Penggali Sumur Badar?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.