Robohnya Dakwah

0

Ada amanah dakwah yang otomatis melekat dalam diri orang beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Sebab dakwah bukan hanya tugas seorang ulama’, kiyai, ustadz maupun cendekiawan muslim lainnya.

Dakwah adalah keniscayaan bagi siapa yang peduli bahwa Islam adalah agamanya, dan memiliki keinginan yang kuat agar semakin banyak umat manusia yang merasakan kedamaian dan keselamatan dalam naungannya.

Sayangnya, ketaksadaran inilah yang membuat kaum muslimin yang beriman abai terhadap amanah nan mulia ini. Alhasil, alih-alih mendukung dakwah, yang mereka lakukan justru merobohkannya; disadari ataupun tidak, perlahan maupun seketika.

Merobohkan dakwah, bentuknya bisa amat halus. Sayangnya, hal itu dirasakan oleh pelakunya sebagai manifestasi dari ajaran dakwah yang ia dapatkan di pengajian-pengajian kelompoknya.

Bentuknya, misalnya langsung mengkafirkan firqah lain hanya karena perbedaan dalam masalah cabang agama. Qunut, misalnya. Atau ziarah kubur, atau ‘hanya’ tentang bercadar ataupun tidak-namun tetap menututup aurat.

Sangat lembut, sehingga memang tak dirasakan. Seperti yang dilakukan oleh oknum dengan celana yang berbeda ukuran dengan masyarakat sekitarnya, kemudian istrinya mengenakan pakaian yang lebih longgar nan rapat menutup dirinya. Lantas mereka merasa asing dari sekitar; senantiasa menutup pintu hati dan rumahnya, tak pernah saling sapa, hingga tak satu pun memiliki tetangga dekat.

Ironisnya, sebagaimana penulis dapati faktanya di sebuah daerah, bahkan saking tidak sempatnya bersilaturahim, saat ayahnya yang tinggal di tempat yang berbeda wafat, ia dan istrinya sama sekali tak menyadari hal itu. Maka, jangan heran, ketika mereka menyambangi jasad sang ayah yang telah bercerai dengan nyawanya, ada saja komentar yang terdengar, “Pantas saja. Dia Islamnya ‘lain’.”

Akhlak, itulah yang bisa dilihat oleh objek dakwah kita. Sebab amalan ritual, bisa menipu, pun iman yang adanya di dalam hati. Maka ketika iman dan Islam tak mewujud dalam akhlak, apa lagi yang menjadi pesona seorang muslim yang berperan pula sebagai dai?

Dakwah bisa pula roboh lantaran kelakuan oknum. Ia mengaku paling sunnah dengan banyak lakukan amalan ritual; sendiri maupun berjamaah. Hingga saking getolnya, di manapun ada ritual puja-puji terhadap sang Nabi, ia tak pernah absen; selalu hadir bahkan menjadi yang terdepan.

Mirisnya, sebab keseringan itu, panggilan acara ritual yang diperselisihkan itu justru menjadi yang utama, bahkan mengalahkan antusiasmenya dalam menghadiri shalat berjamaah di masjid. Akhirnya, ketika acara diadakan di dekat masjid pun, sebab dalih tanggung, maka ia memilih memimpin melanjutkan acara tersebut, sementara sang Muadzin sudah kumandangkan adzan menunggu jamaah.

Sedih? Tentu. Namun, itu faktanya. Dakwah roboh, bukan karena ulah musuh, tetapi atas kebodohan diri yang mengaku sebagai dai.

Hal lain, misalnya, kelakuan ekstrim sebab merasa diganggu ibadahnya. Sebagaimana terjadi di sebuah masjid, ketika salam shalat baru tunai dilaksanakan, sebab tak sabar mendengar berisiknya anak-anak kaum muslimin yang belajar menghadiri shalat berjamaah, serta merta ia melontarkan kalimat laknatnya, “Brengsek!” Padahal lafal ‘kum’ dalam salam belum tunai hilang dari bibirnya itu.

Inilah di antara renungan-renungan yang mesti kita lakukan setiap hari. Barangkali kita menjadi salah satu bagian dari mereka, dengan kadar yang berbeda atau justru lebih parah. Harapannya, agar diri tak merasa paling, dan bergegas memperbaiki kualitas hidup dan dakwah yang kita jalani.

Sebab amat merugi, jika kita merasa memperbaiki, sementara faktanya kita justru telah merusak dan merobohkan dakwah yang kita cintai bersama. [Pirman]

Berita sebelumyaMeski Lebih Rendah dari Bangkai Kambing, Banyak yang Menyukai Hal Ini
Berita berikutnyaWahai Istri, Pahamilah Suamimu