Rezeki Satu Truk Beras lantaran Shalat Dhuha

0
lustrasi @pengetahuansmanic97

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk membaguskan niat dan pelaksanaan ibadah yang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala memberikan karunia kemudahan untuk mensyukuri semua nikmat yang Dia berikan.

Sungguh, tak kayak bagi seorang mukmin untuk menukar pahala akhirat dengan perhiasan duniawi yang amat sementara. Namun, adakalanya Allah Ta’ala kurniakan kemudahan terkait perkara dunia kepada siapa yang Dikehendaki-Nya, ketika atau setelah hamba-Nya melaksanakan ibadah untuk-Nya.

Tersebutlah sebuah pesantren di kawasan Kalimantan. Menerima santri dari Kala Gan yatim piatu, banyak pihak yang mempertanyakan bagaimana caranya hingga pesantren tersebut bertahan. Padahal, banyak siswa yang tak kuasa membayar hingga benar-benar dibebaskan biaya pendidikan dan makannya.

Apalagi menampung ratusan anak dengan kebutuhan makan sehari tiga kali. Tentu hal itu bukan perkara kecil atau mudah.

Maka sampailah kisah dari sohibul hikayat tentang bagaimana Allah Ta’ala mencukupi kebutuhan anak yatim di pesantren itu.

Sekitar pukul delapan pagi, pimpinan pesantren menghadap kepada Kiyai yang merupakan pendiri pesantren. Dengan tergopoh, setelah ucapkan salam ala kadarnya dan jabat tangan, pimpinan pesantren itu menyampaikan, “Maaf, Pak Kiyai.” Lanjutnya agak berat, “Beras digudang habis. Belum ada cadangan untuk makan siang santri.”

Bagi kita, barangkali yang pertama dirasa adalah kepanikan. Apalagi dalam tiga atau empat jam ke depan waktu makan siang akan segera datang.

Namun, Pak Kiyai tetap santai, diam sejenak dan kemudian berkata, “Ayo ke masjid. Kita shalat Dhuha dulu.” Tanpa protes, pimpinan pondok pun membuntuti Pak Kiyai yang langsung bergegas menuju masjid yang terletak di kompleks pondok pesantren tersebut.

Melihat Pak Kiyai dan pemimpin pondok berjalan beriringan, para Ustadz dan santri yang sedang tidak mengajar ataupun mengajar pun langsung mengikuti tanpa komando.

Sesampainya di masjid, mereka mendirikan shalat Dhuha sendiri-sendiri. Ada yang dua, empat, enam hingga delapan rakaat. Semuanya larut dalam munajat kepada Allah Ta’ala dalam takbir, rukuk, sujud serta puja-puji menyebut nama-Nya yang Esa.

Qadarullah, ketika mereka belum kelar memenjatkan doa setelah shalat Dhuha, ada truk yang terlihat masuk ke dalam lokasi pondok dan langsung menuju gudang.

Lepas itu, mereka menurunkan semua beras dalam truk dan memasukkannya ke dalam gudang. Seorang kurir dari dalam truk pun mencari pemimpin pondok untuk menyampaikan pesan yang ia bawa.

Ternyata, beras tersebut merupakan sitaan dari Bulog setempat. Ialah beras miskin yang diselundupkan oleh oknum sehingga dijual bebas di pasaran. Lepas disita, ternyata gudang Bulog setempat penuh. Maka, mereka berunding dan sepakat untuk menyedekahkannya kepada warga. Dan atas izin Allah Ta’ala, pesantren yang tengah membutuhkan beras itulah penerimanya. [Pirman]

*Diadaptasi dari “7 Password Percepatan Rezeki”

Berita sebelumyaKisah Kiyai yang Wafat saat Shalat Tahajud
Berita berikutnyaPemuda Shaleh beraroma Wangi Kesturi, Inilah Sebabnya