Rezeki Plus Plus

0
1423
ilustrasi @livealonger.life

Rezeki bukan sekadar materi. Seluruh pemberian dan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya adalah rezeki. Bahkan ada begitu banyak rezeki yang jauh lebih berharga dan bermakna di banding rezeki dalam bentuk materi.

Ketika ada perasaan bahagia di dalam hati tatkala pertama kali mendengarkan panggilan adzan, itulah rezeki yang langka. Bahkan ada begitu banyak orang yang benci dan mencela tatkala adzan berkumandang. Sebagian lainnya justru menyebut panggilan adzan sebagai berisik dan mengganggu.

Tatkala perasaan bahagia itu diikuti dengan satu langkah pertama ke arah masjid, itulah rezeki yang makin langka. Jarang yang mendapatinya. Semakin sempurna tatkala satu langkah itu berlanjut ke langkah-langkah berikutnya hingga kita benar-benar sampai di tempat wudhu, lalu membasuh seluruh anggota wudhu dengan khusyuk, selayak menggugurkan dosa-dosa yang menggunung, tiada terbilang.

Ketika kaki melangkah ke dalam masjid, kemudian hati diliputi sejuk nan tentram yang mendominasi, lantas tergerak mendirikan dua rakaat sunnah Tahiyatul Masjid atau Qabliyah, itulah sejatinya rezeki. Amat berharga. Jauh lebih bermakna dari capaian duniawi mana pun.

Terus berlanjut hingga mengikuti di belakang imam, mendirikan shalat berjamaah, salam, dan dzikir-dzikir yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, dilanjutkan siraman senyum kepada jamaah lain dan ekspresi-ekspresi persaudaraan islami lainnya, sepenuh cinta.

Inilah rezeki plus plus. Rezeki yang menenangkan hati. Rezeki yang makin menajamkan pikiran. Rezeki yang menyehatkan badan. Rezeki yang nikmatnya berlanjut; dari dunia sampai akhirat.

Lantas di jalan pulang, ketika mentari menyengat teramat, saat diri menyambangi jamaah lain yang jalan lebih dulu, satu di antara mereka berkata. Menawari, “Pak, mari ngopi di rumah.”

Sebab menolak rezeki tidak dianjurkan, mengiyakan adalah pilihan yang paling bijak. Lantas bersama menuju rumah sang sahabat atas nama iman.

Sesampainya di kediamannya, terucaplah salam dan sapa kepada penghuni rumah. Akrab. Dipersilakan duduk. Tuan rumah menuju ke belakang. Dapur.

Tak lama setelah itu, seperangkat kue nikmat dihidangkan. Nasi, lauk, sayur, dan kerupuk serta sambal disediakan. Katanya, “Ayo, Pak. Silakan dinikmati seadanya.”

Dan tak lama setelahnya, dua cangkir berisi cairan warna hitam pekat tersaji. “Ngopi dulu, Pak. Gak usah terburu-buru.”

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kita dustakan? Alhamdulillah…

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]