Resep Jitu Hindari Ghibah

0

Inilah penyakit akut yang menjangkiti kebanyakan manusia. Penyakit menular yang dilakukan dengan sadar, namun pelakunya berdalih panjang dan lebar. Penyakit ini, mulanya berkedok ‘bercerita’, dilanjutkan dengan ‘ini kan fakta’, lalu diakhiri dengan membicarakan keburukan sesamanya.

Bagi mereka yang mudah terjangkit penyakit berbahaya yang dinamai ghibah ini, ada baiknya untuk meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala. Sebab, penyakit itu diibaratkan oleh Nabi sebagai ‘memakan bangkai saudara sendiri’. Selain itu, semoga kisah ini bisa menjadi salah satu terapi agar penyakit itu hilang dari diri kita.

“Ketika aku menggunjingkan seseorang di dekat Iyas bin Muawiyah al-Muzni,” Iyas adalah seorang tabi’in  yang menjadi hakim di Bashrah yang terkenal dengan kecerdasannya, demikian tutur Sufyan bin Husain al-Wasithi, “beliau menatap wajahku.”

Dalam tatapannya itu, Iyas bertanya, “Pernahkah engkau berperang melawan Bangsa Romawi?”

Jawab Sufyan, “Tidak pernah.”

Lanjut Iyas, “Melawan Bangsa India, Turki, apakah pernah?”

“Tidak pernah,” jawab Sufyan serupa dengan jawaban pertama.

“Jika Bangsa Romawi, India, dan Turki bisa selamat dari dirimu, mengapa saudaramu yang sesama muslim tidak bisa selamat darimu?” tegas Iyas kepada Sufyan bin Husain al-Wasithi.

“Sejak saat itu,” kisah Sufyan bin Husain sebagaimana dituturkan oleh Solikhin Abu Izzuddin dalam Bersama Ayah Meraih Jannah, “aku tidak lagi membuka aib atau menggunjingkan keburukan orang lain.”

Demikianlah nasihat orang yang berilmu. Mereka menyampaikan pemahaman melalui kisah dan kiasan yang mudah dipahami. Selain itu, mereka juga menyampaikannya dengan keikhlasan terbaik, sehingga mudah masuk ke dalam sanubari yang diberi nasihat, tanpa kesan menggurui. Sebab, mereka hanya mengharapkan balasan dari Allah Ta’ala dan kebaikan bagi orang yang diberi nasihat.

Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dari ghibah, apalagi fitnah yang keji. Semoga Allah Ta’ala mudahkan dan kuatkan lisan kita hanya untuk mengatakan kebaikan dengan sampaikan nasihat, berdzikir, membaca al-Qur’an, mengajarkan kebaikan, dakwah, atau amalan lisan lainnya.

Hanya dengan itulah lisan kita akan selamat. Sebab ketergelinciran lisan jauh lebih berat daripada ketergelinciran atau kecelakaan fisik lainnya. [Pirman]

Berita sebelumyaPribadi Solutif
Berita berikutnyaSeikat Rumput yang Patahkan Punggung Unta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.