Rela Dihajar Demi Dakwahkan al-Qur’an

0
sumber gambar: almesryoon.com

Tidaklah nama laki-laki ini disebut, kecuali kaum Muslimin mengenalnya. Dialah salah satu sahabat utama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang cemerlang sejak belia. Beliau menjadi pendukung dakwah yang utama, hingga pernah dihajar ramai-ramai oleh kafir Quraisy saat mendakwahkan al-Qur’an al-Karim.

Hari itu, para sahabat berdiskusi. Mereka mencari sosok yang mau dan mampu membacakan al-Qur’an di hadapan kafir Quraisy selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Lantas, laki-laki ini maju dengan gagah, tanpa canggung sedikit pun. “Saya!” jawabnya tanpa rasa takut.

Beliau memang dikenal sebagai sahabat yang bacaannya paling mirip dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan memahami setiap konteks ayat; dimana diturunkan, tentang apa, apa sebabnya, pun dengan ilmu qiraatnya.

Sebab dirinya bukan berasal dari keturunan bangsawan Quraisy, para sahabat mencegahnya. Khawatir jika dia menjadi bulan-bulanan kafir Quraisy yang tak memiliki belas kasihan kepada kaum Muslimin. “Biarkanlah saya.” ujar laki-laki ini, menepis kekhawatiran sahabat-sahabatnya. Ia pun bergegas di waktu Dhuha, menuju perkumpulan kaum  kafir Makkah.

Ia langsung menuju ke tengah kerumunan, di tempat pembesar Quraisy dipersilakan bicara. Dengan lantang, laki-laki ini membaca basmalah lalu dilanjutkan dengan enam ayat awal surat ar-Rahman [56].

“Apa yang dibaca oleh anak Ummu ‘Abdin ini?” tanya salah satu pembesar Quraisy.

“Dia,” jawab pembesar lainnya, “membaca seperti yang dibaca oleh Muhammad.”

Sekongong-konyong, mereka mendatangi si laki-laki, lalu mendaratkan pukulan, tinju, tendangan, dan semua jenis pengeroyokan lainnya. Sementara itu, si laki-laki ini tetap membaca ayat-ayat al-Qur’an hingga batas yang Allah ta’ala Kehendaki.

Berselang kemudian, laki-laki ini mendatangi para sahabat dengan luka memar di sekujur tubuhnya. “Sungguh,” tutur seorang sahabat, “ini yang kami khawatirkan padamu.”

“Sekarang,” jawab laki-laki kurus fisik tapi gagah jiwanya ini, “tidak ada yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah Ta’ala itu.”

Pungkasnya membuat para sahabat lain berdecak kagum, “Jika kalian menghendaki, aku akan datang lagi ke tempat itu esok hari!”

Semoga Allah Ta’ala memberikan ridha-Nya kepada laki-laki dalam kisah ini. Ialah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Apa yang dia lakukan merupakan bukti, bahwa dakwah memang butuh pengorbanan.

Penting dicatat, yang harus diteladani dari kisah ini adalah keberaniannya, bukan detail praktiknya. Kita bisa melakukan cara-cara lain untuk berdakwah, terutama agar makna al-Qur’an al-Karim sampai kepada sebanyak mungkin manusia di muka bumi ini.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaWasiat Amat Penting yang Seharusnya Disampaikan Para Ayah
Berita berikutnyaMasuk Surga karena Bersin