Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak

0
2821

Haji Agus Salim merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau terlahir pada 8 Oktober 1884 dari seorang ayah bernama Sutan Muhammad Salim dan seorang Ibu bernama Zainab. Sosok yang bernama asli Masyhudul Haq ini merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara.

Sejak kecil, beliau memang gila belajar. Sifat ini pulalah yang berhasil mengantarkannya menjuarai sekolah ELS (setingkat Sekolah Dasar) se Kota Gadang dan menjadikannya layak mendapatkan beasiswa melanjutkan ke sekolah setingkat SMA di Batavia kala itu.

Tentunya, ada kebiasaan-kebiasaan positif yang senantiasa beliau lakukan sejak kecil hingga mengantarkannya menjadi tokoh nasional yang mendunia. Berikut kami rangkumkan beberapa di antara kebiasaan tersebut sebagaimana dituturkan oleh Haidar Musyafa dalam Cahaya dari Koto Gadang, sebuah novel biografi sosok pemimpin negeri yang menguasai sembilan bahasa asing ini.

Mengulang Pelajaran

Hal ini dilakukan pada siang hari sepulang sekolah. Setelah mengulang pelajaran, Agus Salim kecil juga belajar untuk pelajaran esok hari. Saking getolnya mengulang pejaran, beliau pun menggunakan plavon rumahnya yang gelap sebagai tempat belajar yang mengasyikkan.

Lantaran kebiasaan ini, beliau berhasil menjadi juara umum di sekolah Belanda se-kota Gadang. Dan menjadi idaman para guru-guru di sekolah itu. Padahal, beliau hanya satu dari beberapa anak pribumi yang berhasil bergabung dengan banyak anak-anak Belanda di sekolah itu.

Tak Lalai dengan Tugas Rumah

Sejak kecil, Ibu Zainab sudah memberikan amanah pekerjaan rumah kepada anaknya ini. Padahal di rumah sang Ayah ada pembantu rumah tangga, si Emak, yang asal Jawa dan sudah dianggap keluarga sendiri.

Hikmahnya, Ibu Zainab menginginkan agar anaknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan kelak berguna bagi kehidupan dewasanya, khususnya setelah menjadi seorang suami. Meski sempat menolak, Agus Salim kecil berhasil menjalankan amanah ini dengan tidak melupakan jadwal belajarnya. Beliau ditugasi membersihkan halaman dan menyirami tanaman (bunga).

Tidak Asyik Bermain

Sebagaimana anak kecil lainnya, beliau pernah alami proses asyik bermain. Tetapi, keasyikan bermain menyita sebagian besar waktunya. Karenanya, nilai sekolahnya pun turun drastis. Hingga, Ayah dan Ibunya marah. Pun dengan guru-guru yang menyayangi beliau karena kecerdasannya. Sejak penurunan nilai itulah, beliau ‘bertaubat’ dari asyik bermain dan kembali mengencangkan ikat pinggang untuk getol belajar. [Pirman/Kisahikmah]

Bersambung ke Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak (Bagian 2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here