Pria Amerika Masuk Islam Setelah Tertantang Al Quran “Tidak Ada Keraguan di Dalamnya”

0
4452
masuk islam
Muslim Amerika (ilustrasi thenational.ae)

Saya mendapatkan kisah ini dari Ustadz Syaukani Ong, beberapa tahun lalu di Surabaya. Kisah unik tentang seorang warga Amerika Serikat yang akhirnya masuk Islam.

Awalnya, pria itu hanya mendengar hal-hal buruk tentang Islam. Maklum, banyak stigma negatif yang dilekatkan media kepada agama yang tumbuh cepat di Amerika dan Eropa ini.

Sebagai seorang yang terdidik, ia justru penasaran dengan isu-isu tersebut dan ingin mengkajinya langsung dari sumber pertama; kitab suci. Ia pun mencari Al Quran terjemah di toko buku di kotanya.

Tertantang, Akhirnya Masuk Islam

“Aneh, tidak ada nama penyusunnya,” gumamnya. Lazim diketahui, mayoritas buku memiliki nama penyusun.

“Mungkin di dalamnya ada nama penyusun,” ia mencoba membandingkan dengan Alkitab yang tertera nama penyusun di dalamnya. Ada Injil Markus yang ditulis oleh Markus. Injil Matius yang ditulis oleh Matius.

Namun betapa terkejutnya ketika ia mendapati surat pertama adalah Al Fatihah yang artinya pembuka.

“Ini bukan nama penulis.”

Apalagi surat kedua, Al Baqarah yang artinya Sapi Betina. “Ini juga bukan nama penulis.”

Lalu ia pun mulai membaca terjemah dua halaman pertama. Surat Al Fatihah dan bagian awal Surat Al Baqarah.

“Alif Lam Mim. Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Ayat pertama dan kedua Surat Al Baqarah itu dibacanya dengan perasaan berkecamuk. Bagaimana tidak, di bagian awal ia sudah ditantang. Umumnya, buku-buku didahului dengan kata pengantar yang di antara isinya adalah permintaan maaf atas ketidaksempurnaan buku tersebut. Namun buku yang ia pegang itu justru menantang bahwa di dalamnya tidak ada keraguan yang berarti juga tidak akan ada kesalahan.

Tantangan inilah yang membuatnya berusaha membuktikan bahwa nanti ia bisa mendapatkan pertentangan isi kitab tersebut sebagaimana kitab suci lain yang telah ia baca. Namun, terjemah ayat demi ayat yang ia baca membuatnya semakin terkesima.

Maknanya dalam, bahasanya indah, dan sampai berlembar-lembar ia tidak bisa menemukan pertentangan. Hatinya sejuk, akalnya membenarkan. Akhirnya ia pun masuk Islam.

Renungan untuk Kita

“Banyak orang di luar sana yang masuk Islam setelah mempelajari Al Qur’an sehingga meskipun usia kemuslimannya masih sangat muda, namun iman dan komitmen ketaqwaannya bagus,” kata Ustadz Syaukani Ong, “maka kita yang telah lama berislam harus memiliki semangat untuk mengkaji Al Qur’an.” [Muchlisin BK/Kisahikmah.com]