Pesan Sufi yang Membuat Anda Tercengang

0
sumber gambar: learni.st

Perasaan takut kepada Allah Ta’ala harus diimbangi dengan cinta kepada-Nya. Cinta kepada Allah Ta’ala merupakan derajat yang paling tinggi. Ianya harus ditempatkan pada posisi teratas, di atas cinta kepada sesama manusia dan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Cinta kepada Allah Ta’ala memiliki tiga lapisan. Yang pertama adalah rasa cinta karena Allah Ta’ala telah berbuat baik dengan melimpahkan banyak nikmat kepada kita. Tidak ada yang mampu menandingi kebaikan-Nya.

Lapisan pertengahan adalah taqwa. Melakukan perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Sedangkan lapisan paling atas adalah mencintai Allah karena Allah. Dialah yang layak dan hak dicintai. Hanya Dia yang layak dicintai, bukan tandingan-tandingan-Nya.

Berbicara soal cinta kepada Allah Ta’ala ini, ada satu pesan agung yang disampaikan oleh salah satu tokoh yang menjadi rujukan para penempuh jalan tasawuf. Ialah pesan suci yang muatannya amat mencerahkan jiwa yang membacanya.

Seorang laki-laki meminta nasihat kepada Imam Thawus Rahimahullahu Ta’ala, “Berpesanlah kepadaku.”

“Cintailah Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya hingga tidak ada yang lebih engkau cintai dari Dia. Takutlah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya rasa takut hingga tidak ada yang lebih engkau takuti daripada Dia. Berharaplah kepada Allah Ta’ala dengan pengharapan yang mampu menghalangi rasa takut antara dirimu dan rasa takut terhadap-Nya.” pesan Imam Thawus sebagaimana dikutip oleh Imam al-Harits al-Muhasibi dalam Risalah al-Mustarsyidin.

Selanjutnya beliau mengatakan, “Ridhalah jika orang lain memiliki apa yang engkau ridha menjadi milikmu sendiri. Laksanakan pesanku ini karena (pesan ini) mengandung ilmu Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur’an al-Karim.”

Inilah nasihat yang mudah diucapkan atau ditulis, tapi amat sukar untuk diamalkan. Kandungannya amat luas dan menyeluruh. Dibutuhkan kesungguhan yang mengagumkan agar kita mampu mengamalkannya.

Apalagi manusia memiliki kecenderungan mencintai yang dekat dengannya. Sedangkan Allah Ta’ala, meski Mahadekat, Dia sering kali dianggap jauh dari seorang hamba. Semakin pelik saat kita menyaksikan banyak orang yang justru berlari menjauh saat Allah Ta’ala mendekat dengan berbagai sarana yang Dia ciptakan.

Maka inilah nasihat yang benar-benar harus kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Meski harus menyedot seluruh potensi yang kita miliki.

Semoga kita terpilih untuk menjadi hamba yang benar-benar mencintai-Nya melebihi cinta kita kepada selain-Nya. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKiat Sufi: Bagaimana Cara Mencintai Allah?
Berita berikutnyaKisah yang Membuat Anda Bergegas Mendatangi Adzan