Pertanyaan Arab Badui yang Membuat Rasulullah Terdiam

0
sumber gambar: photo.navi-pon.com

Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, seorang Arab Badui menyampaikan sebuah pertanyaan, “Apakah Tuhan kita itu dekat sehingga kita bisa bermunajat kepada-Nya atau jauh sehingga kita harus menyeru-Nya?”

Mendengar pertanyaan dari salah satu suku terbelakang di jazirah Arab ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam terdiam. Beliau belum menyampaikan jawaban hingga Allah Ta’ala sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut dalam salah satu ayat-Nya yang mulia.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Firman Allah Ta’ala di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 186 inilah yang ditunggu oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sekaligus jawaban atas pertanyaan seorang Arab Badui di atas.

Ayat ini juga sesuai dengan konteks yang terjadi dalam jihad di medan Khaibar. Saat itu, ada beberapa kaum Muslimin yang memanjatkan pinta kepada Allah Ta’ala dengan meninggikan suaranya. Kemudian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian. Sungguh kalian tidak sedang berdoa kepada zat yang tuli dan tidak pula ghaib. Namun sungguh, kalian tengah memanjatkan pinta kepada Zat Yang Maha Mendengar, Mahadekat, dan Dia senantiasa bersama kalian.”

Di dalam al-Qur’an al-Karim, ayat ini berada dalam satu pembahasan tentang wajibnya puasa Ramadhan, mulai dari ayat 183. Maknanya, Ramadhan hendaknya menjadi bulan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala hingga kita tidak berjarak dengan-Nya. Kita harus senantiasa berupaya agar Dia benar-benar kita rasakan Kuasa-Nya di setiap jenak.

Ayat ini juga harus melahirkan pemahaman; karena Allah Ta’ala Mahadekat, maka kita harus rajin-rajin memohon ampun atas dosa-dosa yang kita kerjakan saban waktu. Jangan hanya sibuk meminta, tapi apa yang Dia perintahkan tidak pernah kita lakukan. Hendaknya semangat bertaubat ini ada di setiap denyut nadi dan detak jantung kita.

Semoga Allah Ta’ala memberikan karunia kepada kita untuk senantiasa memohon ampun atas dosa-dosa yang kita kerjakan. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaTafsir Sufi: Penjelasan Isra’ Mi’raj yang Membuat Anda Tercengang (2)
Berita berikutnyaBegadang (yang) Sangat Dianjurkan